Search This Blog

Thursday, March 8, 2018

Mengelola Keuangan Keluarga




Huft, lama banget libur nulisnya nih.  Maklumlah emak-emak suka (sok) sibuk.  Sampai ketika saya dibangunkan dari tidur panjang oleh Be Molulo, grup blogger Sultra yang mengingatkan ada tema bulanan  yang harus ditanggapi, tentang mengelola keuangan keluarga.


Err… sebenarnya saya sudah pernah menulis tema ini beberapa waktu yang lalu sih.  Seputar tips hemat ala saya agar bisa tetap senyum manis hingga akhir bulan kala membuka dompet setiap pagi.  Jadi ya, agak bingung juga sih ketika harus menulis lagi dengan tema yang sama.  Tapi baiklah, mari kita coba. Jangan menyerah kalau kata D’Massiv 


Ibu adalah menteri keuangan dalam keluarga.  Sudah sering kita mendengar kalimat itu.  Ya, karena memang pada sebagian besar rumah tangga menyerahkan pengelolaan keuangan pada Ibu.  Meski begitu, sesungguhnya saya juga bukan pengelola keuangan yang baik.  Masih banyak bocornya disana sini.  Kalau bocornya langsung kelihatan sih enak, tinggal ditambal. Tapi kalau udah bocor halus, wah berat urusannya, kudu teliti nyari sumber kebocorannya biar bisa dioles aquaproof *bukan iklan*


Berpenghasilan sendiri atau tidak, seorang istri pasti akan tetap menerima pemasukan dari suami.  Jadi ya memang harus pinter-pinter mengelolanya karena yang namanya pengeluaran serasa seperti bayangan, ikut terus kemana saja kita pergi.  


“Seringkali masalahnya terletak bukan pada penghasilan yang kurang, tapi pada kebiasaan yang salah dalam mengelola keuangan”

Ligwina Hananto



Nah, pakar keuangan aja bilang begitu khan.  Buat menghindari bocor-bocor seperti yang saya sebutkan tadi, ini dia beberapa tips mengelola keuangan keluarga ala saya.  Melengkapi tulisan sebelumnya ya.






Mengelompokkan Pengeluaran



Dulu awal-awal nikah, saya rajin lho memisahkan setiap pengeluaran rutin dalam amplop-amplop khusus.  Mencatatnya lalu melakukan evaluasi di akhir bulan.  Seiring waktu, malas mendera dan akhirnya kebiasaan mengamplopkan ini tak saya teruskan.  Ceritanya udah hafal sama pos-posnya gitu deh.  Meski begitu,  tetap saja semua pengeluaran rutin harus dituntaskan di awal bulan.   

Begitu terima gaji, langsung digunakan untuk membayar semua kewajiban terlebih dahulu.  Listrik, air, TV Kabel, SPP sekolah Prema, arisan ini itu, iuran warga, asuransi dan seterusnya.  Ini harus benar-benar tuntas di awal bulan.  Setelah itu baru kemudian menghitung kebutuhan belanja rumah tangga dan tabungan atau rencana-rencana lainnya. 


Memisahkan Rekening Kebutuhan Keluarga dan Tabungan



Sejak awal menikah, kami sudah sepakat tentang rekening khusus ini.  Jadi, kami memang punya satu rekening khusus untuk tabungan, yang wajib diisi setiap bulan dengan nominal yang sudah ditentukan.  Sewaktu saya masih bekerja  dan berpenghasilan tetap, rekening khusus ini kami isi dari menyisihkan sebagian gaji suami dan sebagian gaji saya.  Kalau sekarang sih, full dari gaji suami.  Dan ini benar-benar butuh komitmen.  Artinya ketika sudah menetapkan nominal tertentu yang akan ditabung setiap bulan, maka lakukan.  Sisanya baru buat kebutuhan sehari-hari.  Jadi ya memang harus disiplin mengatur pola hidup biar gak bocor.


Pernah bocor gak?


Pernah dong *bocor kok bangga?* Haha.  Ya ya, kami juga bukan keluarga sempurna yang super disiplin sih.  Beberapa kali pernah kok bocor.  Pas di penghujung bulan, kok yo ternyata uang hariannya habis.  Terpaksa deh ambil dari tabungan.  Kalau sudah begini, biasanya evaluasi dulu.  Apakah kebocorannya karena kebutuhan atau keinginan (ini udah pernah saya bahas di tulisan sebelumnya ya).  Kalau memang karena kebutuhan yang sangat mendesak, oke, dimaklumi.  Tapi kalau ternyata bocornya karena keinginan yang sebenarnya tak terlalu penting, maka biasanya di awal bulan berikutnya jumlah yang terpakai itu wajib diganti dengan menambahkan nominal yang wajib masuk ke rekening tabungan.


Tabungan ini tak harus berbentuk tunai aja sih.  Bisa juga lewat investasi berupa barang dan sejenisnya.  Misalnya menabung logam mulia, perhiasan, tanah dan lain-lain.   Tabungan ini khan buat masa depan.  Buat pendidikan anak, buat hari tua dan segala yang akan datang.


Sadis ya? Gak juga kok.  Pas dijalani, happy-happy aja, Mak.

Merencanakan Liburan



Lha ini gimana to, bahas mengelola keuangan kok malah larinya ke liburan?

Hehe tenaaang. Masih ada hubungannya deh.  Kita khan juga butuh refreshing ya.  Memberi makan jiwa kalau saya bilang.  Setiap hari sibuk sama rutinitas kerjaan.  Rumah, kantor, jalanan macet dan segala derivasinya pasti bikin penat deh.  Karena itu kita butuh liburan.


Budget ketat bukan berarti gak bisa liburan lho.  Gak harus yang jauh-jauh dengan biaya selangit kok.  Cukup ke taman kota saja, bersama keluarga tercinta atau sahabat rasanya sudah bisa bikin relaks.  Tapi kalau memang pengen liburan yang butuh biaya lumayan, ya memang harus menyisihkan dana liburan.  Biar gak manyun pas pulang liburan ternyata tagihan kartu kredit membengkak atau saldo rekening menipis.  

Saran saya sih, buat satu rekening khusus untuk tabungan liburan.  Kalau males kebanyakan rekening, boleh aja sih digabung sama rekening tabungan/kebutuhan sehari-hari, tapi ya hati-hati, rentan bocor.  Alih-alih liburan, yang ada malah nombok.
Liburan yuuuuuk....!
Selain bepergian, sesekali makan di luar bareng keluarga juga butuh biaya. Kalau saya sih, ambil dari budget kebutuhan sehari-hari.  Karena hitungannya khan makan rutin.  Kalau ternyata kepakenya lumayan banyak, ya artinya yang makan dirumah kudu lebih irit lagi.  Perbanyak 4T aja, tahu tempe, telur dan terong huahahahaha.


Kurangi Penggunaan Kartu Kredit



Udah pada tahu dong kalau bunga kartu kredit itu sadis mencekik.  Udah pada tahu juga godaan menggeseknya seperti bayangan yang selalu nempel sama badan.  Bahkan di beberapa gerai perbelanjaan, tak jarang yang menawarkan discount besar untuk pembelian barang dengan kartu kredit dibanding dengan kartu debet atau membayar tunai.


Fyuuh godaannya mak bedunduuuuung.


Saya dulu punya kartu kredit.  Begitu berhenti kerja, saya tutup dan gunting.  Dulu, pas masih punya, saya berusaha untuk tak menyisakan hutang kartu kredit di akhir bulan. Kartu ini hanya saya gesek sebagai pengganti uang tunai yang kebetulan tak cukup di dompet atau karena memang akan dapat discount lebih gede bila berbelanja dengan kartu kredit.  Jangan memilih pembayaran cicilan.  Cukup gesek saja, lalu biasanya pada hari yang sama saya akan langsung melakukan pelunasan sejumlah pemakaiannya.  Benar-benar hanya sebagai pengganti uang tunai.  Jadi, saya gak kena bunga dan tetap dapat discount.


Tapi lebih baik kalau gak usah pakai kartu kredit sih.  Setelah resign dan menggunting kartu 5 tahun yang lalu, hidup saya aman tentram tanpa tagihan setiap bulan.  Ada uangnya, beli.  Gak ada uangnya ya jangan beli dulu.  Itu sudah.


Err.. masih ada punya Pak Suami sih.  Ini juga benar-benar kami control pemakaiannya.  Gak bakal digesek kalau gak sangat-sangat terpaksa.  Percayalah, jauh lebih tenang menggesek kartu debet daripada kartu kredit.  Lebih asyik menatap barang idaman yang dibeli dengan cash dibanding mikirin tagihan tiap bulan.  Apalagi kalau barang itu masuk dalam kategori keinginan/gaya hidup.  Bukan kebutuhan.  Nyesek booo bayarin tiap bulannya .


Menyisihkan Dana Sosial



Yang saya maksud adalah menyisihkan sebagian penghasilan kita untuk sosial.  Memberi sumbangan pada kegiatan-kegiatan amal, membezuk orang sakit, berbagi pada yang membutuhkan dan sejenisnya.  Percayalah, dalam setiap sen penghasilan kita, ada hak orang lain juga didalamnya.  Bisa jadi, kita hanya menerima ‘titipan’ menjadi perantara untuk memberi kebahagiaan bagi orang lain.




Teman-teman tentunya sudah sangat hafal pada nasihat-nasihat bijak yang mengatakan bahwa berbagi tak akan membuat kita miskin.  Pun sudah sangat familiar dengan kisah-kisah keajaiban rezeki yang datang berlipat-lipat jumlahnya kala seseorang berbagi dengan ikhlas dengan orang lain.  Bahwa matematika Tuhan jauh lebih dahsyat dari matematika manusia.

Ya ya… saya juga sering membacanya.


Memberi 5000 kemudian mendapat rezeki 500 ribu.  Menyumbang 100 ribu lantas gol proyek 100 juta.  Dan aneka kisah lainnya.  Ini semua tampak begitu ideal.  Istilahnya rezeki yang sangat tampak dan kasat mata.  Tunai.  Dan sayangnya, kadang bikin orang-orang jadi ngarep.  Padahal banyak lho rezeki lain yang baik langsung maupun tidak langsung, tanpa kita sadari mungkin saja berasal dari ‘sumbangan’ itu.  Misalnya kesehatan, keamanan, kenyamanan dll. 

Jadi gini.  Karena dalam penghasilan kita ada hak orang lain, maka akan selalu ada jalannya untuk keluar.  Saya menyebutnya lubang sosial.  Lubang ini, akan terus terbuka agar bisa dilalui.  Bila kita paksa menutupnya maka suatu hari dia akan membesar, pecah dan menganga lebih lebar dari sebelumnya yang menyebabkan pengeluaran menjadi jauh lebih besar. 


Gak mau kayak gitu khan?


Karena itu, dalam mengelola keuangan keluarga, jangan lupa sisihkan sebagian untuk ini ya #selfreminder #selftalk 


Menyiapkan biaya tak terduga



Ini penting menurut saya.  Biasanya untuk isi amplop undangan, pengobatan anggota keluarga yang sakit, sumbangan ini itu dan sejenisnya.  


Sehat Bahagia Sampai Akhir Bulan



Weits… sehat bahagianya sampai akhir bulan aja nih?

Ya nggak dong ah.  Ini khan menyesuaikan dengan tema mengelola keuangan.  Umumnya buat yang berpenghasilan rutin, di awal bulan udah bernafas lega lagi khan.  Errr… kecuali kalau ternyata awal bulan tagihan hutang juga ikut ngantri, ya ini lain cerita deh.


Intinya, dengan  melakukan perencanaan pengelolaan keuangan keluarga dengan baik, kita akan terhindar dari kebocoran yang bikin sesak nafas.  Kalau masing-masing sudah berjalan dikoridornya, pastinya kita akan lebih nyaman dan gak pakai deg-degan memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Yang wajib diingat jangan sampai besar pasak daripada tiang.


Bagian terpenting lainnya adalah jujur dalam mengelola keuangan.  Ini khan kas keluarga.  Ibu-ibu boleh jadi adalah menteri keuangan, tapi sumber penghasilannya khan bapak-bapak.  Yang menikmati adalah seluruh anggota keluarga.  Sebaiknya perencanaan ini dilakukan bersama, suami dan istri. Eh tapi, dulu waktu saya masih punya gaji bulanan jaman ngantor, saya sering juga sih belanja keperluan pribadi pakai ‘uang sendiri’.  Ya sekedar beli baju, tas atau buku gitulah.  Merasa punya duit dan penghasilan soalnya hahaha.  Kalau sekarang, mau belanja, ya ijin pak suami dulu.  Kecuali duit hasil ngeblog, yang langsung masuk rekening.  Udahlah anteng-anteng aja dia disana huahahaha *mudah-mudahan pak suami gak baca bagian ini*


Jadi gimana teman-teman? Sudahkah mengelola keuangan keluarga dengan baik? Share yuk


Salam

Arni



Trigger post tema ini ditulis oleh Ira Hamid dalam artikel 

5 comments:

  1. Mampir say...
    keren say tulisannya...
    bold nih... tentang ada uangnya beli..gak ada tahan dulu...

    ReplyDelete
  2. Hampir samalah ya Mak pengelolaannya. Menurutku amplopnya sekarang jadi amplop virtual yess.. Soalnya manager keuangannya udah jago.. 😁

    ReplyDelete
  3. ihiiiyy, pantas bisa tembus 2000kata lebih, kereenn gini.
    sa ndk ragukanmi lagi lah klo Mamak Prema yg kasih tips ;)
    jadi tergiur juga ini rekening utk liburan, tp huhuh PakSu bukan tipe suka liburan :/

    ReplyDelete
  4. Lengkap banget Mba Arni. Saya juga sering bocor tabungan khususnya. Ndilalahnya sejak punya kartu kredit ga pernah bocor lagi lho. Soalnya kalau uanh belanja habis ya kartu kredit ini jadi solusi, meskipun harus sangat disiplin memakainya supaya ga kebablasan dan awal bulan saat gajian langsunh diganti 😅

    ReplyDelete
  5. mantap pengelolaan keuangannya keluarga Mba Arni euy *jempol*

    saya juga sampai saat ini gak pake kartu kredit, sempat tergiur tapi baca tulisan ini jadi mikir lagi deh

    ReplyDelete