Search This Blog

Wednesday, July 10, 2019

Toko Buku, Tempat Menyepi dan Menepi Terindah



Halo semua…

Cerita Arni kembali dengan cerita-cerita keseharian.  Kalau kemarin kita bahas film, kali ini kita akan membahas tentang toko buku.  Masih ingat gak, kapan terakhir kalian ke toko buku? Seminggu, sebulan atau bahkan setahun yang lalu?

Di era digital kayak gini buku-buku juga turut hadir dalam versi digital.  E-book istilah kerennya.  Nya Semangatnya sih bagus.  Selain lebih praktis karena bisa baca via gadget, e-book juga paperless tentunya.  Lebih ramah lingkungan karena tak memakai kertas-kertas yang diproduksi dengan mengorbankan batang-batang pohon.

Saya, sampai saat ini masih cinta buku konvensional.  Versi cetak.  Sesekali membaca versi e-book, tapi sayangnya mata saya tak kuat.  Lekas lelah dan berair kalau kebanyakan melihat layar laptop atau HP.  Jadi, kalau membaca cerita via gadget biasanya memilih cerita-cerita pendek saja yang sekali baca langsung tamat.  Untuk novel saya memilih versi cetak.

Kembali ke pertanyaan awal, kapan terakhir kalian ke toko buku?

Seingat saya, terakhir ke toko buku 2 bulan yang lalu.  Waktu itu kami bermaksud nonton film di bioskop.  Ternyata jam tayangnya masih cukup lama sehingga kami masih punya waktu untuk kegiatan lain sembari menunggu.  Prema minta ke arena bermain anak, ditemani Ayah.  Saya, memilih melipir ke toko buku.  Dan tahu gak, saya sukses menghabiskan satu novel sore itu.

Dulu, zaman masih ngantor, toko buku adalah tempat rutin yang saya datangi setiap bulan.  Iya, benar-benar setiap bulan.  Lebih tepatnya setiap hari terima gaji.  Jadi, karena dulu masih punya penghasilan rutin bulanan, saya langsung menyisihkannya untuk membeli minimal 1 novel.  Terkadang lebih, tergantung ketertarikan saya pada kisahnya.  Tapi yang rutin ya satu novel satu bulan.  Dulu saya bolak balik Jakarta Bogor via kereta.  Nah, sepanjang perjalanan naik kereta itu saya manfaatkan untuk membaca buku.  Lumayan, sehari saya punya waktu dua jam untuk membaca.

Teman-teman kantor saya sampai hafal.  Kalau setiap habis terima gaji yang lain langsung jajan baju, gadget, aksesoris atau sekedar makan-makan, saya pasti menghilang ke toko buku.  Kebetulan kantor tak begitu jauh dari sebuah mall yang cukup ternama di Jakarta, dengan toko buku jaringan terbesar di Indonesia sebagai salah satu outlet didalamnya.  Jadi biasanya, usai makan siang bareng, kami berpisah menuju incaran masing-masing.  Saya pasti ke toko buku deh.

Buat saya, berada di toko buku selalu menyenangkan. Melihat perkembangan dunia literasi, buku-buku baru, membaca hasil olah pikir orang lain, mendapatkan diksi-diksi baru, dan teknik merangkai kalimat dengan bahasa yang melenakan.  Membaca buku membuat saya larut.  Lebur dalam kisah dan nyaman.

Toko buku adalah tempat menyepi dan menepi yang terbaik.  Agak mirip rasanya dengan ke perpustakaan, tempat favorit saya lainnya.  Berada di tengah lautan buku-buku dan menghirup aroma khasnya sungguh candu buat saya.  Ah, saya jatuh cinta.

Toko Buku ; Dulu, Kini dan Nanti

Saya ingat waktu berkantor di bilangan Kuningan, Jakarta ada sebuah toko buku bekas yang rutin saya datangi kala siang, di jam istirahat kantor.  Sekedar membaca atau memilih-milih buku.  Kalau beruntung, kita bisa lho menemukan “harta karun” berupa buku-buku langka yang bahkan di toko buku besar sudah tak ada stocknya.  Meski bekas, kondisinya kadang masih sangat bagus.  Pemilik terdahulunya cukup apik.

Di toko buku bekas ini, kita bisa lho mememsan buku tertentu ke bapak pemilik/penjaganya.  Nanti dia yang bakal nyariin.  Pada kunjungan berikutnya buku idaman sudah tersedia.  Itu dulu, entahlah sekarang masih buka atau nggak lapak buku ini.  Sudah 7 tahun saya resign dari pekerjaan kantoran, sejak itu putus hubungan deh dengan lapak buku ini.

Punya anak, incaran buku-buku saya berganti tema.  Kalau dulu kalap beli novel buat sendiri, sekarang kalapnya kalau lihat buku anak ada discount.  Isi rak buku juga jadi berganti tema deh.  Dari buku dongeng hingga buku-buku ilmiah seperti ensiklopedia dan sejenisnya.  Tak apa, namanya juga usaha membuat cah bagus mencintai buku.

Toko buku jaman sekarang sudah lebih maju pastinya.  Di tata senyaman mungkin buat pengunjung agar lebih betah dan lama didalamnya.  Pencarian buku tertentu juga sudah via katalog digital sehingga tak perlu merepotkan penjaga dengan tanya ini itu.  Selain itu, tata letak buku juga lebih rapi dan sudah dikelompokkan sesuai tema dan jenisnya.  

Meski begitu, toko buku sekarang banyak bersaing dengan pedagang online.  Iya, pemasaran buku di era digital juga merambah dunia online.  Tak perlu repot-repot berdesakan dan antri di toko buku, cukup dengan gadget dalam genggaman transaksi online, duduk manis deh di rumah lalu si buku akan mendarat manis dihantarkan oleh abang kurir.  Mudah sekali.

Masing-masing ada plus minusnya dong.  Membeli buku secara online memang lebih praktis.  Tapi suasana nyaman dalam toko buku tak kita dapatkan.  Sensasi memilih buku sembari menghirup aroma kertas nan wangi juga menghilang.  Yang paling terasa hilangnya adalah kesempatan membaca buku lainnya sebelum kaki melangkah ke kasir untuk membayar belanjaan.  Haha ini sih kelakuan saya. Belinya buku A, tapi tertarik juga sama buku B.  Karena jatah jajan buku terbatas, baca buku B sampai tuntas, lalu melenggang ke kasir bayar buku A. Hayo ngaku, kalian juga gini khan?

Ke depan, tantangan toku buku tentunya makin berat.  Bersaing dengan e-book dan penjualan buku online.  Pun bersaing dengan gadget.  Saat ini di ruang-ruang publik kerap kita saksikan orang yang memainkan gadget.  Baik untuk bermedia social maupun berkomunikasi biasa.  Sangat jarang sekali kita melihat orang yang membaca buku sembari menunggu atau mengisi waktu perjalanannya.   Ini menjadi PR besar tentunya buat toko buku.  Harus lebih kreatif dan bikin program menarik agar pengunjung makin banyak.  Event BBW (Big Bad Wolf) salah satu contohnya.

Saat menulis ini, saya melangitkan doa.  Semoga minat baca anak-anak kita meningkat.  Semoga tercipta generasi yang mencintai buku-buku, yang rajin membaca agar tak mudah percaya hoax. Agar terus hadir penulis-penulis handal yang menuliskan kisah-kisah berkualitas dan sarat pesan moral kebaikan.


Salam Literasi
Arni

No comments:

Post a Comment