Search This Blog

Monday, February 12, 2018

Benarkah MSG Berbahaya? Cari Tahu Faktanya!



 
Foto dari memecomic.id
“Makanya kalau makan jangan kebanyakan micin, jadi bego khan Lu!”

“Anak sekarang otaknya gak dipake mikir.  Dasar generasi micin!”

Familiar dengan kalimat-kalimat sejenis? 

Yup.  Saya juga cukup sering membaca kalimat yang menyalahkan micin sebagai sumber kebodohan.  Bukan itu saja, micin juga disebut-sebut sebagai sumber dari berbagai macam penyakit mulai dari yang ringan seperti pusing-pusing, sakit kepala hingga hipertensi dan kanker.

Jujur saja, saya termasuk yang agak parno sama micin.  Antara percaya gak percaya bahwa micin itu berbahaya yang akhirnya bikin saya ragu untuk mengkonsumsinya.  Meskipun bukan yang total tanpa micin sama sekali, tapi saya sangat mengurangi penggunaannya terutama saat memasak dirumah.  Khan kata orang tua dulu, “kalau ragu, mendingan gak usah sekalian.” 

Sejak menikah hampir 12 tahun lalu, saya belum pernah yang namanya membeli micin (murni) sebagai pelengkap bumbu dapur.  Tapi, saya masih pakai kok beberapa bahan penyedap turunannnya yang berupa saos-saosan itu, sebut saja saos tiram, teriyaki, kecap dan kawan-kawannya.  Ya, mereka semua sudah mengandung MSG didalamnya, dengan tambahan bahan-bahan lain sesuai namanya tentu saja.  Saya juga sesekali masih suka jajan diluar, yang mana saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dalam meracik makanannya mereka tentu memakai micin sebagai penyedap,  penambah rasa, hingga makanan menjadi enak.  

Jadi, saya ya gak yang bersih banget dari micin lah.
 
Aneka produk dengan kandungan MSG
Nah, belakangan ini marak banget beredar meme dan ungkapan-ungkapan yang menjadikan micin sebagai biang kerok atas suatu kejadian.  Media sosial berkembang tak terkendali.  Semua orang merasa memiliki kebebasan menulis dan menyebarkan bahkan untuk sesuatu yang belum terbukti kebenarannya.  Yang penting eksis.  Yang penting ikut trend kekinian.  Saya, yang memang dasarnya sudah parno, jadi makin parno deh.  Tapi di sisi lain, saya juga penasaran.  Benar gak sih MSG itu berbahaya?  Bagaimana kalau ternyata ini hanya issue yang dihembuskan oleh oknum saja? 

Umami, Si Pemberi Rasa Gurih


Sungguh mati aku jadi penasaraaaaan……

Eits sudah! Sudah! jangan sambil nyanyi ya bacanya.  Malu.  Ketahuan angkatannya kalau nyanyiin lagu itu.  Ini eranya Dilan Mak, bukan Bang Haji.  Jadi cukup sampai disana liriknya ya.  Namanya penasaran, memang bikin gak nyaman deh.  Gak enak tidur, gak enak makan, gak enak ngapa-ngapainlah pokoknya. Oh oke, ini lebay.  Makin ngelantur deh.  Kembali ke laptop eh salah kembali ke micin.

 

Hari Sabtu, 10 Februari kemarin rasanya semesta mendengar pertanyaan-pertanyaan dalam hati yang galau ini.  Saya, bersama rombongan ibu-ibu dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Bogor, mendapat kesempatan berkunjung ke Dapur Umami, di bilangan Sunter Jakarta Utara.  Wah pucuk dicinta ulampun tiba.  Akhirnya saya tak bertepuk sebelah tangan  *halagh aposih???*

Sebelum berangkat cekrek dulu dong

Singkat cerita.  Kami berempat puluh, emak-emak kece dan eksis ini ramai-ramai meninggalkan rumah sejak subuh, meninggalkan anak dan suami yang belum sarapan (Ou maafkan kami untuk yang satu ini)  dan berpindah ke lain hati dapur, demi mendapatkan penjelasan langsung dari sumbernya tentang si micin alias MSG ini.  Entah darimana pula asal muasalnya MSG jadi disebut micin, jangan tanya awaklah ya.  Cukup kita tau sama tau saja, oke!  Selanjutnya saya akan menyebut MSG aja ya. 

Kedatangan kami disambut ramah oleh Bapak Indra Gunawan,  staff  Public Relation PT. Ajinomoto, yang memulai perkenalan dengan meriah dan tak lupa selalu meminta tepuk tangan seikhlasnya. Haha.  Suasana pagi menjadi seru dan ramai deh.  Namanya emak-emak ya, ada aja yang dikomentarin. 
Dari Pak Indra, kami jadi tahu bahwa Ajinomoto sudah berdiri sejak tahun 1970 di Mojokerto, Jawa Timur.  Bahan baku utamanya adalah gula tebu yang difermentasi.  Diproses sedemikian rupa hingga hasil akhirnya berupa Kristal murni dan putih yang mudah larut dan bercampur dengan berbagai jenis makanan.

Bapak Indra Gunawan.  Tepuk tangan seikhlasnya ibu-ibuuuu....
 
Dalam tayangan video, kami  juga diperlihatkan bagaimana proses produksi yang benar-benar terkontrol baik dari awal panen tebu hingga menjadi kemasan, termasuk bagaimana limbah pabrik diproses kembali sebelum dikembalikan ke alam dan menjadi limbah yang ramah lingkungan bahkan ada yang dijadikan pupuk.

Hmm… sedikit demi sedikit keraguan saya mulai terkikis nih.

Sesi materi kemudian dilanjutkan oleh Bapak Harris Fadhillah, PR Manager PT. Ajinomoto.  Pak Harris niat banget lho tampil maksimal di depan ibu-ibu WHDI, beliau memakai udeng, sejenis ikat kepala khas Bali.  Sip lah, Pak.  Keren kok *kasi 40 jempol deh*

Bapak Harris Fadhillah yang hadir lengkap dengan udeng

Ternyata, Umami berasal dari Bahasa Jepang yang artinya gurih.  Wah nambah perbendaharaan bahasa Jepang juga deh.  Jadi, pada jaman dahulu, orang-orang hanya mengenal 4 rasa dasar yang bisa dikecap oleh lidah yaitu manis, asin, pahit dan asam.  Sampai kemudian pada tahun 1908, Dr. Kikunae Ikeda, seorang peneliti dari Jepang menemukan bahwa ada rasa lain yang berbeda dan menjadikan rasa makanan menjadi lebih sedap.  

Foto dari wikipedia
Proses penemuannya cukup unik,  berawal dari keheranan ketika menyantap masakan istrinya yang selalu terasa sedap dan gurih *ouh suami idaman, penyuka masakan istri haha*.  Rupanya si istri selalu menambahkan kaldu dari rumput laut kombu kering dalam masakannya.  Inilah yang kemudian diteliti oleh Ikeda dan menemukan rasa baru yang disebabkan oleh kandungan glutamate didalamnya.  Rasa ini kemudian disebut umami.  Penemuan ini kemudian berkembang ke berbagai negara, termasuk di Indonesia.

MSG sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP)


Bagaimana, sudah yakin MSG aman dikonsumsi? Ou belum selesai ini ceritanya.  Silakan minum dan ngemil-ngemil cantik dulu.  Bakalan agak serius soalnya nih.  Kita lanjut lagi ya...

Jadi, Monosodium L-Glutamat (MSG) adalah suatu  asam amino yang secara alamiah terdapat di jenis makanan-makanan yang mengandung protein seperti daging, sayuran dan air susu ibu.  MSG adalah garam natrium dari asam glutamate.  Glutamat sendiri tersedia dalam dua bentuk yaitu glutamate terikat (terikat bersama asam amino lain membentuk protein molekul) dan glutamate bebas.  Hanya jenis glutamat bebas yang efektif menambah cita rasa makanan.  Selain glutamate hasil fermentasi,  tomat dan jamur juga diketahui mengandung glutamate yang tinggi sehingga seringkali digunakan untuk menambah citarasa makanan. 
Dr. Ikeda.  Foto dari Ajinomoto.com
Faktanya, berdasarkan hasil penelitian Mehaia et.al (1992), ternyata glutamate bebas paling banyak ditemukan pada ASI.  Jauh lebih  tinggi dibandingkan susu sapi, domba atau lainnya.  Ini berarti, manusia sudah mengenal rasa ‘umami’ sejak hari pertama kelahirannya.  Tak heran jika kemudian saat mencicipi makanan dengan kandungan glutamate, lidah tak lagi merasa asing.

Kalau begitu, kenapa rasa umami baru ditemukan pada tahun 1908? 

Ini karena glutamate sangat mudah larut dalam makanan, sehingga rasanya tertutup oleh rasa lain (terutama asam) serta berkombinasi dengan garam seperi sodium dan potassium.  Meskipun demikian, sebenarnya rasa ini biasanya diidentifikasi secara sederhana dengan kata sedap, enak, bercita rasa tinggi dan derivasinya.  Sampai kemudian orang menyadari bahwa rasa yang tepat adalah gurih.

Di Indonesia, penggunaan MSG diatur menurut Permenkes RI No 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Pangan dan didefenisikan sebagai Bahan Tambahan Makanan yang dapat memberikan, menambah atau mempertegas rasa dan aroma.   Digunakan dalam jumlah secukupnya serta diproduksi dengan menerapkan GMP (cara produksi pangan yang  baik, CPPB).  Nilai ADI (Acceptable Daily Intake) MSG tidak dinyatakan (not specified) yang artinya aman dikonsumsi (Dikutip dari presentasi Ir. Tetty Sihombing MP., Direktur Standarisasi Produk Pangan, BPOM RI pada symposium “A Century of Umami, The Fifth Basic Taste” Jakarta 6 Agustus 2009)

Penggunaan MSG biasanya dibatasi dengan kata ‘secukupnya’.  Nah,  secukupnya untuk setiap orang tentu saja berbeda.  Dan ini dibatasi oleh indra pengecap kita.  MSG, pada umumnya “mengatur” sendiri dosis yang dibutuhkan.  Ketika dosis optimum tercapai, dengan sendirinya pemberian MSG tidak akan memberikan efek menambah cita rasa bahkan sebaliknya menyebabkan rasa yang kurang enak dan tentu saja boros #naluriemak2irit

MSG aman dikonsumsi


Ciyus? Miapah? Mie ayaaaaam…

Balik lagi ke pertanyaan-pertanyaan awal yang seliweran dalam benak.  Berbagi issue bahaya glutamate yang beredar di masyarakat selama ini tak pernah benar-benar terbukti secara ilmiah.  Tak ada riset ataupun jurnal yang secara resmi menyatakan bahwa glutamate menyebabkan kerusakan sistem syaraf, bodoh ataupun kanker.   Sebaliknya, menurut Dr. Minarto, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) bahwa kenyataannya MSG telah melewati serangkaian penelitian ilmiah yang panjang dan dapat dipercaya dan membuktikan MSG aman dikonsumsi.

Benar adanya bahwa beberapa uji coba pemberian MSG tampak memberi hasil negatif bagi kesehatan.  Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, ini disebabkan pemberian MSG dalam jumlah berlebihan (dosis tinggi) pada objek percobaan, dimana hal ini tidak mungkin terjadi dalam konsumsi normal manusia.  Karena, saat berlebihan dengan sendirinya akan menimbulkan rasa tak enak pada cita rasa makanan itu sendiri. 

Huft.. gimana ya perasaan si Micin disalahin melulu kayak gini. 
Tau gak? Ternyata, otak manusia itu memproduksi glutamate dalam jumlah yang signnifikan lho.  Tanpa glutamate, otak tak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.  Jadi, memang tak ada bukti ilmiah bahwa glutamate dapat mengganggu sistem syaraf.

Yang menarik, penggunaan MSG justru dapat menjadi pengganti garam pada penderita hipertensi.  Hal ini karena MSG sendiri sudah mengandung natrium yang tentu saja jumlahnya jauh lebih sedikit daripada garam murni.  Lagipula pemakaian MSG dalam makanan tentunya tak sebanyak garam.


Intinya, semua yang berlebihan tentu saja tidak baik.  Bukan hanya MSG.  Karena itu, gunakan MSG dengan bijak.

 
Hayo lho... si Micin baper.  Foto dari martirNKRI.com
Jadi, kalau ada anak yang prestasi akademiknya tidak sesuai harapan, bukan micin penyebabnya ya.  Coba cek lagi bagaimana belajarnya, coba cek lagi minat bakatnya, coba cek lagi kenyamanannya bersekolah.  Bisa jadi anak yang tak menonjol di bidang akademis, ternyata mampu berprestasi di bidang lainnya.  

Pun demikian, kalau ada yang mulai ngelantur omongan atau komentarnya terhadap sesuatu, jangan salahkan si micin ya.  Bisa jadi karena memang yang bersangkutan salah menerima informasi atau memang terlalu memelihara kebencian dalam dirinya.

Saya jadi merasa dapat pencerahan deh.  Akhirnya terjawab sudah keraguan selama ini.  Meskipun tak serta merta membuat saya lantas ujug-ujug memasukan MSG dalam daftar belanja bulanan, tapi setidaknya saya tak lagi parno gak jelas sama si micin ini. 

Demo Masak Dapur Umami


Udah pindah dapur sejak pagi, tak lengkap dong kalau gak masak-masak ya.  Dalam kunjungan ke Dapur Umami Sabtu kemarin, ada chef Pairan Iwan yang siap seru-seruan bersama ibu-ibu mengolah resep menjadi masakan enak, tentunya tak lupa dibubuhi MSG ya. Haha



Rasanya diantara semua sesi, demo masak ini yang paling heboh. Bagaimana gak heboh, dari awal saat Chef Pairan menawarkan siapa yang bersedia menemani demo masak aja sudah terjadi jambak-jambakan rambut, tarik menarik celemek rebutan posisi.   Motivasinya macam-macam, dari yang memang penasaran pengen praktik sampai yang pengen eksis acting memasak aja. Ah pokoknya seruuuu hahaha.  Tiga menu yang dimasak adalah Potato Wallington ala Umami, Ayam Nanking Orange Sauce dan Buncis Saori Saus Sechuan.  
 
Saya numpang narsis yaaa...


Potato Wallington
 
Ayam Nanking Orange Sauce
 
Buncis Saori Saos Sechuan
Tips dari Chef Pairan, menambahkan garam dan MSG pada masakan sebaiknya sesaat sebelum diangkat dari api.  Dengan begitu rasa dan aromanya lebih kuat.  Ini karena garam dan MSG sangat mudah larut dan tidak perlu pemanasan yang berlebihan.  Ini juga bisa membuat kita lebih hemat dalam pemakaian MSG.  Selain itu, sebaiknya jangan membubuhkan MSG pada makanan yang langsung dikonsumsi tanpa dimasak.  Urap misalnya, bubuhkan MSG hanya pada bumbunya saja, saat mengaduk bumbu dan sayuran sebaiknya tak perlu lagi diberi MSG.

Bareng Chef Pairan
Aih tak terasa udah panjang aja saya bercerita.  Maklum emak-emak kalau sudah kadung ngoceh kadang lupa berhenti deh.  Buat yang butuh info-info lebih lanjut tentang keamanan MSG dan segala info-info lainnya, boleh banget lho main-main ke Dapur Umami juga seperti kami.  Daripada dengerin kabar hoax dari sumber gak jelas, lebih baik langsung ke sumber aslinya khan.  Atau kalau ada yang penasaran kayak saya juga silakan klik www.umamiinfo.com.  Selain dapat info yang bener, disana juga ada pilihan aneka resep yang pastinya yummy murkimmy.

Selamat makan tanpa cemas.  Ajinomoto ;  Eat Well Live Well.



Salam
Arni

10 comments:

  1. wah, ternyata gak papa ya? saya termasuk yang gak pernah pakai MSG dalam memasak. Bahkan sering gak pakai garam kalau masak makanan tertentu seperti telur. makasih liputannya soal MSG ini. mencerahkan!

    ReplyDelete
  2. Kalo di rumah nyaris masak tanpa mecin aku mbak, sebagai gantinya pakai gula pasir. Tapi gak bisa dipungkiri, beberapa tepung ayam tetap digunakan meskipun mengandung MSG, demi anak-anak yg kepengen makan ayam kentaki, toh itu juga gak berlebihan jadi aku santai gak parno 😁

    ReplyDelete
  3. Kalau saya termasuk yang cuma menghayal aja masak gak pakai MSG buatan Mbak hehehe...

    ReplyDelete
  4. Aku tetap berpendapat kalau MSG buatan pabrik tetep ga bagus hehe... dan bener, kalo makan di luar, ga mungkin bebas micin, so di rumah ga pernah pake micin, ga pernah pake saos2an, kecap jaraaaang banget.

    ReplyDelete
  5. mba arni .. itu yy saran chef bilang masukin garam atau msg sebelum makanan di angkat dr api beneran? soalnya aq suka masukin garam dr tengah2 memasak .. biar garemnya meresap .. πŸ˜†

    ReplyDelete
  6. Nah, ini info yang sama waktu aku jalan-jalan bareng umami food marathon desember lalu. MSG pada dasarnya aman, asal digunakan dengan takaran yang tepat. Tapi aku ya ga berani juga pakai msg saat masak, soalnya sadar, pada jenis makanan yg lain pun kadang sudah ada kandungan MSGnya

    ReplyDelete
  7. Saat masak, saya juga kasih msg-nya sesaat sebelum masakannya saya angkat, berarti cara saya udah benar yaa Mba 😊

    ReplyDelete
  8. Baru tahu kalau (penamaan) rasa gurih bahkan dihasilkan dari penelitian.. Kita tinggal makan aja ya MakPrem πŸ˜…

    ReplyDelete
  9. Sejujurnya kalo masak sendiri di rumah gak pernah pake MSG, tapi masih pake saos2 san penyedap itu sih. Kecuali kalo masak buat acara yang dimakan orang lain juga, kuakui tanpa MSG rasanya hambar.

    ReplyDelete
  10. Akhirnya! MSG nggak disalahkan lagi~ wkwkwk. Tapi memang kalau saya biasanya pakai MSG buat pengikat rasa aja sih, Mbak Arni. Dan ternyata ada cara-cara menggunakan MSG itu sendiri yak.

    *gagal fokus sama foto makanannya.

    ReplyDelete