Search This Blog

Monday, April 1, 2019

Meniti Tangga 13 Tahun



“Aku tidak peduli seberapa banyak kekuranganmu.  Mencintai satu saja kelebihanmu, itu sudah cukup bagiku.  Aku selalu minta sama Tuhan agar membuat hatiku jatuh sejatuh-jatuhnya, hanya kepadamu,”

Aiiiih so sweet.  Hatiku hangat.  Aku meleleh.

Wait! Itu hanya penggalan kutipan dari film “The Perfect Husband”.  Kalimat yang bikin saya terkenang-kenang dan susah move on usai menonton filmnya.  Bahkan, karena nonton via HP saya sampai memutar berkali-kali khusus bagian ini saja #guemahgituorangnya

Meski hanya di film, kutipan itu membawa ingatan saya melompat ke masa belasan tahun silam.  Ketika seorang pemuda tengil, berani-beraninya melamar saya untuk dijadikan istri.  Geer banget bakal diterima, bahkan sampai ngikutin saya ke Makassar untuk kemudian lanjut ke Kendari bertemu kedua orang tua dan keluarga besar di sana (fyi, sebelumnya kami di Jakarta dan suatu hari tiba-tiba saya ditugaskan ke Makassar untuk waktu yang cukup lama)



Saya ingat, suatu malam di tengah belantara kota Jakarta yang sibuk, kami duduk berdua membicarakan masa depan #ceileeeeeh.  Bicara dari hati ke hati, membahas segala kemungkinan yang akan kami hadapi nanti termasuk membuat pengakuan-pengakuan tentang kisah masa lalu.  Berusaha mencari celah dalam hati masing-masing untuk saling mengerti.  Kemungkinannya hanya dua : putus atau lanjut.

Ucapan Arsen ke Ayla dalam film The Perfect Husband itu benar-benar terucap lho.  Saya curiga ini Babang Rudi Aryanto, sutradara filmnya nguping obrolan kami di Taman Surapati malam itu deh huahahaha.  Kok yo, kutipannya bisa mirip-mirip gini.

Agak-agak drama ya pemirsah.  Tapi memang beneran kok, kalau diingat-ingat hubungan ini agak koplak di awal.  Benarlah klo ada yang bilang, “jangan suka saling ejek, ntar jadi cinta lho” Begitulah yang terjadi.  Ah pokoknya, singkat kata akhirnya terjadi pertunangan di 31 Mei 2003.  lalu berjalan begitu saja, keenakan pacaran trus lupa nikah #ehhh.  Bukan, bukan gitu kok, kami kemudian kerja keras bagai quda demi ngumpulin duit buat nikah #kokngenesya haha 



Dan 1 April 2006 terjadilah pernikahan itu.

Hari ini 1 April 2019, 13 tahun sudah kami meniti tangga di rumah sederhana ini. 13 tahun lalu berubah status dari single menjadi double.  13 tahun lalu mengikat janji suci bersama. 13 tahun lalu, perjalanan hidup yang baru dimulai.

Tak ada perjalanan yang mudah dan mulus selamanya.  Riak dan gelombang sesekali datang.  Jalan berkelok, tanjakan, turunan semua kami temui.  Sudah sukseskah menghadapi semua tantangan? Tentu saja belum.  Ke depan, tak tahu apa yang kami temui.  Tapi dalam setiap tantangan itu, kami menyelipkan doa, melangitkan harapan agar kuat menghadapi bersama, dengan genggaman erat dan pelukan hangat.  Dengan tatapan teduh tanpa saling menyakiti.


Sepotong Asa Kepada Cinta

13 Tahun bukanlah waktu yang singkat, pun belum ada apa-apanya.  Betapa banyak contoh di sekitar kami dari mereka yang berhasil merawat cinta hingga puluhan tahun, hingga maut memisahkan.  Semua menjadi panutan.

Ayah, terimakasih sudah menanam pohon kesabaran yang begitu rindang di rumah kita. Terimakasih sudah merawat subur tanaman cinta di lapangan hati ini. Maafkan ibu yang masih belum sempurna menjadi pendamping Ayah. Seringkali riak itu hadir karena Ibu bergerak terlalu keras hingga jalan kita bergelombang.  Seringkali kita bertemu lubang dalam perjalanan karena ibu kurang awas melihat setiap sudut jalan.  Bahkan terkadang tanjakan terasa begitu berat untuk di daki karena ibu membawa semua beban seolah menjadi super hero padahal sesungguhnya lemah.


Jangan bosan ya mendampingi ibu.  Menggenggam tangan dan memberi pelukan saat ibu terpuruk.  Mendaratkan kecupan di kening tanda sayang, mengulurkan tangan untuk menguatkan saat ibu butuh pegangan.  Jangan bosan ya mendengar ocehan dan keluhan yang serasa tak ada habisnya.  Jangan lelah ya membimbing keluarga kecil kita menuju masa depan bahagia yang kita impikan.

Maafkan untuk semua ngambek, manyun dan omelan.  Maafkan untuk semua kedudulan dan kerepotan.  Maafkan untuk sikap yang belum dewasa.  Maafkan untuk permintaan yang kadang ajaib.  Maafkan untuk mood yang sering naik turun gak jelas. Harap maklum, Ibu bukan bidadari kahyangan yang punya hati selembut sutra, Ibu hanya wanita biasa yang sedang jatuh cinta, kemarin, hari ini, esok daj selamanya #priktiiiiw


Ada pangeran kecil yang dipercayakan hadir di tengah kita, setelah perjuangan panjang.  Berdua kita dampingi setiap langkahnya agar berada di jalur yang baik dan benar.  Semoga kita bisa seia sekata dalam mendidiknya.  


Ke depan, akan ada banyak catatan yang kita ukir bersama.  Banyak kisah yang kita ciptakan bertiga.  Banyak kenangan yang akan kita ciptakan.  Selama kita bersama dalam suka dan duka, saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain, maka kita akan tetap berjalan sebagai keluarga.  

Ini kok lama-lama jadi lebay ya. Udah kehabisan kata-kata nih.  Udahan ah nulisnya
Tumben banget nulis sampai bingung gini.  Tutup aja deh catatannya.  

Happy anniversary
Mohon doanya teman semua


Salam

Arni

No comments:

Post a Comment