Friday, April 2, 2021

, ,

Tentang Tanah Kelahiran


 Buah pepaya buah mangga

Dimakan langsung makin menggoda

Bumi anoa punya banyak pesona

Ayo berkunjung  nikmati keindahannya

Beberapa waktu lalu, di sebuah WAG saya dimention seorang kawan.  Rupanya dia baru bergabung di WAG itu dan memperkenalkan diri sebagai blogger asal Kendari.  Inilah asal muasal dramanya. Ternyata tak banyak yang tahu Kendari itu dimana. Dari 220 anggota WAG tersebut, hanya sedikit sekali yang benar menebak lokasi kota Kendari.

“Di Sumatera ya?”

“Jawa Timur. Nasi goreng arangnya enak di sana,”

“Woii itu mah Kediriiiii. Beda kakak. Yang dibahas ini Kendari!”

“Kayaknya Kalimantan deh,”

Begitulah. Masih banyak lagi acara tebak-tebakan tentang letak kota Kendari.  Sampai teman saya nyerah lalu memanggil bala bantuan “call a friend” alias mention saya yang memang kebetulan sudah lebih dulu tergabung dalam WAG itu. Sayangnya saya baru baca sekian jam kemudian. Lalu senyum-seyum sendiri baca chat yang membahas kota Kendari.

Makin kacau lagi ketika temen saya menyebut Kendari itu ibukota Sultra. Acara tebak-tebakan berikutnya berlanjut pada kata “Sultra”

‘Sulawesi Utara?”

‘Itu mah Suluuuut!”

“Sultra itu Sulawesi Tenggara,”

“Lho harusnya Sulteng dong. Kok jadi Sultra?”

“Karena Sulteng itu Sulawesi Tengah.”

Wew ternyata ya, ini baru bahas satu provinsi saja. Gimana coba kalau bahas 34 provinsi di Indonesia. Bisa makin panjang dan rame tuh WAG. Gak cukup bahasnya 7 hari 7 malam deh. Nah, akhirnya saya nimbrung dalam obrolan itu yang justru membuat yang lainnya makin heran karena selama ini sebagian teman-teman mengira saya stay di Bali. Ternyata saya anak Kendari. Yes, saya lahir besar di Kendari.

Kalau ada yang bertanya dimana kampung halaman saya, dengan tegas pasti akan saya jawab Kendari. Meski sekarang tinggal di Bogor bersama keluarga kecil saya, tapi orang tua, adik-adik, keluarga besar saya masih di kendari. Jadi ya kalau mudik saya ke sana.  Di Bali sih ada, mertua dan sebagian keluarga dari bapak ibu. 

“Lho tapi namanya Bali, kak?”

Iya. Saya keturunan Bali. Bapak ibu saya Bali tulen. Saya juga berdarah Bali. Jangan salah, di Kendari itu banyak sekali orang Bali. Bahkan banyak desa-desa yang khusus dihuni oleh orang Bali. Ini adalah dampak program pemerintah jaman dulu banget yaitu transmigrasi, yang membuat orang Bali dan Jawa tersebar ke seluruh Indonesia. Yups, suku paling banyak yang mengikuti program transmigrasi ini adalah Bali dan Jawa. Bapak ibu saya juga,  mengikuti orang tuanya yang bertransmigrasi. Jadi ya, kakek nenek saya juga ada di kendari. Merekalah pelopor kami terdampar ke Sulawesi.

Oke. Sekian sejarah saya jadi orang Bali di Kendari.

Kembali ke laptop. Maksudnya ke Sultra.

Tahun 2021 ini tepat 42 tahun saya lahir di bumi anoa, julukan yang diberikan untuk Sulawesi Tenggara. Anoa (Bubalus depressicornis)  adalah nama salah satu satwa endemik khas Sulawesi.  Saat ini anoa termasuk satwa langka yang dilindungi. Hidup di hutan, merupakan hewan penyendiri dan berkembang biak sangat lambat, juga dijuluki sebagai kerbau mini. Yang penasaran, silakan cari tahu sendiri tentang hewan langka ini ya.

Anoa, satwa endemik khas Sulawesi. Foto dari Wikipedia

Rasanya selama 42 tahun tak banyak saya bercerita tentang tanah kelahiran. Kalau teman-teman lihat bentuk Pulau Sulawesi yang menyerupai huruf K, Sultra berada di kaki yang sebelah kanan.  Kendari adalah ibukota provinsi Sulawesi Tenggara. Dulu, waktu saya masih menetap di Kendari, jumlah kota dan kabupatennya hanya 4 saja yaitu Kota Kendari, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton.  Adanya kebijakan otonomi daerah membuat terjadinya pemekaran wilayah sehingga saat ini berkembang menjadi 17 Kabupaten dan Kotamadya. Oh ya, tahun 2021 ini Sultra berusia 57 tahun.

Pulau Bokori, salah satu pulau indah di Kendari

Potensi Wisata Sulawesi Tenggara

Wilayah Sulawesi Tenggara terdiri dari beberapa pulau, besar dan kecil. Yang terbesar tentunya yang menyatu dengan daratan Sulawesi. Lalu ada Pulau Muna, Buton dan beberapa pulau-pulau kecil lainnya. Jadi bisa dipastikan, punya banyak pantai dengan panorama yang indah.  Yups, wisata baharinya juara.

Kota Kendari berada di sisi daratan dari Teluk Kendari. Artinya, sepanjang sisi kota ini adalah pantai. Jadi tak heran kalau suhu udaranya puanas poll.  Nah, sepanjang garis pantai Teluk Kendari ini jadi tempat wisata.  Beberapa hotel berdiri dengan view Teluk Kendari. Sebuah masjid megah berada di tengah-tengah Teluk, sekarang menjadi salah satu icon Kota Kendari. Lalu yang terbaru, sebuah jembatan sepanjang 1,3 km  menghubungkan sisi kota Kendari dengan sisi Pulau Bungkutoko di seberangnya. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tahun 2020 kemarin.  Melintasi tengah-tengah Teluk Kendari. Pada malam hari, sepanjang pantai menjadi tempat wisata kuliner yang selalu ramai pengunjung.

Suatu hari, dalam pelayaran menuju Bokori dengan katinting

Tak jauh dari pusat kota, menyeberang sebentar ke sebuah Pulau kecil, Bokori namanya. Pulau cantik yang pernah hampir tenggelam dan nyaris hilang dari peta. Selengkapnya, teman-teman bisa baca kisahnya di “Pulau Bokori yang terus berbenah”. Lalu ada juga Pantai Taipa, Toronipa, Nambo.

Masih dari wisata bahari, teman-teman pastinya pernah dengar Wakatobi dong.  Taman bawah lautnya yang indah adalah surga untuk diving, snorkeling maupun sekedar memancing. Yups, Wakatobi itu di Sultra, gaes! Banyak orang tahu Wakatobi, tapi tak tahu di provinsi mana letaknya. Duuuh… ini antara bangga dan sedih sih. Kayak orang luar negeri yang dulu itu nanya, “Indonesia sebelah mananya Bali?” Fyuuuuh.

Taman laut Wakatobi. Foto dari Wikipedia

Urusan taman laut ini, bukan hanya Wakatobi lho yang dimiliki Sultra, ada wisata bawah laut Basilika juga. Masih tetanggaan sama Wakatobi, terletak di Pulau Buton. Kekayaan baharinya luar biasa, dengan ratusan spesies ikan dan terumbu karang.

Pantai-pantai di Pulau Buton juga menawarkan pemandangan yang sangat memanjakan mata. Pulau Batu Atas, Pantai Kamali, Pantai Nirwana, Pantai Huntete, Pantai Katembe, Pantai Lakeba, Tanjung Pemali dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Teman-teman juga pasti tahu Raja Ampat. Bahkan mungkin pernah berkunjung ke sana. Tidak, saya bukan mau bilang Raja Ampat ada di Sultra. Tapi  Sultra juga punya view secakep Raja Ampat.  Pulau Labengki namanya.  Saat ini, Pulau Labengki menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Tenggara.

Pulau Labengki, si mini Raja Ampat. Foto : AhmadNizar

Tak ketinggalan Pulau Muna. Pulau yang satu ini juga eksotik dan punya banyak potensi wisata menarik.  Beberapa diantaranya dituliskan oleh teman saya Ani dalam blognya waode1453.com.  Ani memang asli dari Muna. Tak heran dia hafal betul potensi daerahnya, baik wisata, kuliner maupun sumber daya lainnya.  Beberapa wisata favorit di Muna antara lain Danau Moko, Pantai Walengkabola dan banyak lagi yang lainnya.

Bukan hanya wisata bahari, Sultra juga punya air terjun dong. Ada air terjun  Moramo yang sudah sangat terkenal. Bentuknya yang bertingkat-tingkat menjadi pesona tersendiri.  Mau kenal lebih dekat, sebelum berkunjung langsung ke Moramo, silakan baca tentang surga tersembunyi ini terlebih dahulu.  Juga ada air terjun Tumburano di Kabupaten Konawe Kepulauan dan air terjun Samparona di Sorowolio, Bau-Bau.

Air terjun moramo yang bertingkat-tingkat

Tahukah teman-teman dimana sungai terpendek di dunia berada? Di Sulawesi tenggara, gaes! Sungai yan bernama Sungai Tamborasi ini terletak di Kolaka dengan panjang hanya 20 meter  dan lebar 15 meter. Lebih mirip danau yang terletak di tepi laut jadinya. Tapi ini benar-benar sungai lho, mata airnya jelas dibalik batu, lalu mengalir menuju laut. Keren ya.

Masih banyak potensi wisata lainnya di Sultra. Kalau disebutin satu-persatu, rasanya bakalan panjang banget artikel ini. Langsung berkunjung aja, yuk!

Potensi Sumberdaya alam

Waktu sekolah dulu, kita diperkenalkan dengan aspal buton. Yups, aspal ini memang dihasilkan di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Aspal dengan kualitas istimewa dan hanya ditemukan di dua tempat di dunia yaitu Buton dan Trinidad, Amerika Selatan.  Saat ini pemerintah sedang mengupayakan untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi aspal Buton dengan baik.

Di Sulawesi Tenggara juga ada tambang nikel yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun lalu di bawah pengelolaan PT. Antam. Lalu beberapa tahun terakhir juga ditemukan tambang emas.  Adanya potensi luar biasa di perut bumi anoa ini menjadi semacam magnet yang sayangnya bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi berpotensi baik untuk perekonomian, di sisi lain akan terjadi eksploitasi alam secara besar-besaran.  Sungguh, untuk sisi kedua saya merasa sedih. Semoga semua stake holder yang terkait dengan aktivitas penambangan ini juga turut memperhatikan keseimbangan alam demi bumi yang sehat.

Pengolahan nikel di PT.Antam Pomalaa. Foto dari liputan 6

Selain di perut bumi, pernah ada satu masa jati terbaik dihasilkan dari Sultra. Jati Muna, dengan kualitas premium dan berusia puluhan hingga ratusan tahun. Gelondongan kayu jati asli Muna tersebar ke manca negara. Sayangnya, itu dulu. Meski masih tersisa, namun sekarang kondisinya jauh berbeda. Lagi-lagi, eksploitasi berlebihan yang tak disertai peremajaan kembali adalah penyebabnya. Hiks.

Dari darat kita ke laut. Yups, namanya juga dikelilingi laut maka dipastikan potensi perikanan juga sangat menjanjikan.  Ikan-ikan di sana sungguh segar. Jujur saja, yang paling saya rindukan sejak tinggal di Bogor adalah ikan segar. Maka setiap pulang ke Kendari, saya bisa tiap hari makan ikan. Gak pakai bosan, bahkan cenderung kalap haha.

Temen-teman tahu abalone? Sejenis kerang laut berdaging tebal dan empuk. Masyarakat setempat menyebutnya mata tujuh. Menjadi komoditi ekspor yang dibandrol dengan harga selangit. Abalone banyak ditemukan di perairan Sulawesi hingga Flores. Sulawesi Tenggara salah satunya.

Oh jangan lupa kacang mete. Kalau teman-teman berkunjung ke Kendari, kacang mete adalah salah satu oleh-oleh khas dari sana. Bersanding dengan ikan asin, terasi dan aneka olahan pangan lainnya.

Wow banget ya potensi sumber daya alamnya. Gimana, tertarik main ke Sultra? Cuss lah, setelah pandemi berakhir travelinglah ke Tanah Celebes.

Wisata Kuliner, Menjajaki Aneka Makanan Unik

Bicara makanan, auto bikin saya lapar dan pengen segeran mudik nih.  Selain olahan sea food, kuliner-kuliner di Sultra juga unik dan enak.  Ada sinonggi, ini mirip dengan papeda di Papua dan Ambon atau kapurung di Makassar. Diolah dari sagu yang dibuat sedemikian rupa hingga mengental dan tampilannya mirip lem, lalu dimakan dengan ikan berkuah yang dimasak kuning bernama palumara, dengan tambahan sayur bening dari campuran aneka macam sayuran. Rasanya unik. Suami saya langsung suka sejak pertama kali mencoba.

Kasoami. Foto dariWikipedia

Perkenalkan olahan unik lainnya bernaman kasoami, berbahan dasar ubi yang diolah dengan cara tradisional dan disantap bersama sayur dan ikan. Baik ikan bakar, goreng ataupun ikan asin. Lain kasoami lain pula kabuto, berbahan dasar singkong yang diparut lalu dijemur hingga benar-benar kering.  Untuk penyajiannya kabuto bisa dikukus terlebih dahulu dengan bahan campuran sesuai selera seperti tambahan gula, garam dan taburan parutan kelapa misalnya.

Ada kerang unik yang selalu saya cari setiap pulang kampung. Pokea, kerang darat yang banyak ditemukan di sepanjang Kali Pohara, salah satu sungai terbesar di sana. Pokea ini dijadikan sate dengan bumbu-bumbu khas lalu disantap bersama gogos, semacam lontong yang terbuat dari ketan. Ah, asli saya auto ngeces bayanginnya.

Sate pokea, jagung rebus dengan sambal, gorengan, sarabba, pisang eppe

Masih banyak kuliner-kuliner lainnya yang tak bisa saya sebutkan. Tapi ada satu ciri khas yang paling berkesan dengan kuliner ini yaitu hampir setiap makanan dikonsumsi bersama sambal. Baik itu makanan berat atau sekedar cemilan. Singkong goreng, pisang goreng semua dicocol sambal. Jagung rebus saja dimakan dengan sambal kok, sambalnya khas, kombinasi garam, cabe dan kucuran jeruk nipis. Nikmat sekali.

Wah, tak terasa panjang juga saya cerita tentang tanah kelahiran ya. Masih banyak yang ingin saya ceritakan. Belum cerita tentang wisata sejarah dan budayanya lho saya ini. Lain waktu kita sambung kembali. Intinya, Indonesia sangat indah. Setiap daerah unik dan punya potensi. Sejauh mana kita mengelola, menjaga dan melestarikannya? Mari tanyakan pada diri kita masing-masing.

Yuk berkunjung ke Sulawesi Tenggara

 

Salam

Arni

 

 

33 comments:

  1. MakPrem..
    Saya belom pernah tahu kampung orang Bali di Kendari, tapi kalau yang di Buton, kampung nya keturunan Bali, beneran kayak little Bali.

    Udah pernah ke sana ga?
    Namanya Ngkaring Karing.

    Bapak saya punya buanyaaaakk banget teman orang Bali, bahkan waktu terakhir saya lewat Kendari mau balik ke Surabaya, waktu peristiwa jatuhnya Air Asia dulu.

    Saya naik taksi dari pelabuhan ke bandara, trus ternyata supirnya tuh orang Bali, dan suprisingly kenal banget Ama teman bapak saya yang di Buton πŸ˜€

    Btw, sedih juga ya, orang-orang zaman now, geografinya parah banget.
    Padahal kan Sultra dan Kendari itu, udah lama ada.

    Beda lagi kalau memang kabupaten atau kota pecahan baruπŸ˜€

    Oh ya, baru ngeh juga, ternyata Ani waodenya Muna ya, mama saya juga turunan Waode, tapi Wolio sih πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja saya tahu Ngkaring Karing, di sana ada adiknya bapak. Dulu sering main ke saat liburan. Di Buton juga banyak temanku, teman SMA dan teman kuliah jadi ya lumayan sering sih main ke Buton

      Kapan-kapan kalau ada waktu panjang saat pulang Kendari, yang paling saya inginkan adalah nyebrang ke Buton. Main ke pantai-pantainya yang indah dan menejlajah Wakatobi sepuasnya. Mudik bareng yuk, Rey

      Delete
    2. Ikut nimbrung yaaa... :)

      Dilemanya mi orang Kendari, Sultra. Geser sedikit dari jazirah Sulawesi langsung tidak terdeteksi. Apalagi kalau sebut Muna...wiihh kaya sebut negeri antah berantah. Itu mi sa ingin perbanyak tulisan tentang Muna(ekspektasi yang semoga bisa jadi realita).

      Kalau ke Ngkaring-ngkaring boleh mi lanjut di Pure (kampungku) Kakak2. Siap menjamu. 10 menit naik katinting langsung bisa leha-leha di Pantai Bakealu.

      Iye kak Rey, saya masuk Kabupaten Muna secara administratif tapi kalau geografis masuk dalam daratan Buton. Kalau katanya kakekku, Muna Buton satu nenek moyang ji. Makanya banyak kesamaan. :)

      Delete
  2. Saya tau Kendari karena dulu pernah dekat dengan seorang pemuda dari sana heheh
    Banyak emang potensi kekayaan alam daerah yang belum digali dengan maksimal, salah satunya pantai dan kekayaan laut Sulawesi luar biasa indah tapi kalah dengan daerah lain seperti Bali.

    ReplyDelete
  3. Pantun permulaannya itu lho sangat tokcer banget....hehe

    Nah keren nih kak arni mendeskripsikan semua pesona wisata di tanah kelahirannya. Bangga dengan potensi lokal yang luar biasa dengan dituliskannya di blog...salut dan apresiasi atas tulisan kakak...

    ReplyDelete
  4. Saya pernah mengirim paket ke Kendari, jadi udah lama sekali mengenal lokasinya. Hehehe.. Seru juga ya menebak sebuah daerah di tanah air ini.
    Jujur sih, kalau luar Jawa saya juga sering keliru. Duh harus makin banyak belajar Geografi deh

    ReplyDelete
  5. Saya juga sering tertukar antara kediri dan kendari. Memang Indonesia sangat luas. Jadi ingin ke kendari. Pasti seru, semoga pandemi segera berakhir, jadi bisa jalan-jalan ke sana.

    ReplyDelete
  6. Halo Kak dalam kenal aku juga asalnya Sulsel hehe. Dulu pernah tinggal di Kendari juga tapi bentar aja cuma dinas Papa. Semua saudaraku lahir di Kendari, cuma aku yg Makassar. Tapi kami asli orang Maros. Pengen banget ke Kendari, kebetulan di sana ada kuburan Kakakku.

    ReplyDelete
  7. MasyaAllah indahnya Sultra khususnya Kendari ya. Saya baru lihat juga nih penampakan Anoa mirip perpaduan kambing dan tapir menurut saya. Semoga nanti bisa dapat kesempatan kesana.

    ReplyDelete
  8. Wkwkwk. Kediri ama Kendari itu bagaikan Optimus Prime dengan Megatron ya Mba Arni.

    Alhamdulillah saya sudah pernah ke Kendari, dan itu pun cuma sehariiiii karena ikut liputan Menhut Pak Zulkifli Hasan waktu itu. Gak sempat jalan-jalan, sebab cuma di kotanya doang. Baca postingan itu haduuuuh menyesalnyaaaaa. Coba aja saya extended sehari dan pulang sendiri. Mungkin masih sempat jalan-jalan ke beberapa spot menarik di blog Mba Arni ini.

    ReplyDelete
  9. Saya malah ngira Mb Arni asli Makasar.πŸ™

    Btw Wisata Bahari di Kendari jempolan banget, ya mb.Tp nt orang yg nggk bs berenang kek saya gini susah gt, ya menikmati pemandangan bawah lautnya.

    ReplyDelete
  10. Saya bersyukur waktu SD wajib hafal peta, Mbak Arni. Jadinya saya tahu banyak kota sampai kota kecil di Indonesia. Untuk Sulawesi, orang mungkin lebih familiar sama Makassar ya. Tapi zaman saya merantau tahun 1999-2000 dulu kok ya ada mengira Makassar itu dekat Ambon padahal kalau saya tilik, dia dulu belajar peta buta harusnya karena seumuran saya. πŸ˜†

    ReplyDelete
  11. Okeee catat Kendari di Sulawesi Tenggara, ah kalau dengar provinsi ini saya langsung mikir ini dekat dengan Wakatobi. Pasti indah banget bawah lautnya, dan ternyata banyak juga potensi wisata yang menarik yaa satu diantaranya yang mengalihkan pikiran saya adalah kuliner nya.

    Semoga suatu saat saya bisa main kesini. Amiin.

    ReplyDelete
  12. Duhhh, komentarku yang tadi sudah masuk atau belum ya? Agak ngadt tadi. Mafkeeun kalau kedobel yaa.


    ReplyDelete
  13. Kupikir mbak Arni berasal dari Bali hihihi.... ini Kendari di Sultra Masya Allah wisata laut, kuliner dan budayanya sungguh luar biasa. Detail ceritanya 😍 Btw masih hapal dulu pas sekolah sering ada pertanyaan, hewan apa yang berasal dari Sulawei? Jawabannya anoa dan babi rusa hehehe...

    ReplyDelete
  14. Jadi pengen nyobain makanan2nya. Secara nggak pernah sama sekali ke Kendari.

    ReplyDelete
  15. Penasaran sama kuliner nya ,sangat beraneka ragam. Penasaran sama rasa abalon itu mirip cumi kah rasanya?

    ReplyDelete
  16. Mb arni.. Duh fotonya.. Aku slalu tersepona dengan alam..
    Kl kuamati skrg d bbrp pantai banyak yg mirip raja ampat y viewnya.. D malang, pacitan,blitar..eh.. D sultra juga ada.. heheh..
    Smg aku bisa melancong k sulawesi.. Salah satu pulau yg destinasinya wisatanya udah kumasukan k dreamlist.. Tapi belum eksekusi hehe

    ReplyDelete
  17. Dari dulu pengen banget ke Wakatobi tapi belum kesampaian. Apalagi skrg pandemi, jadi makin sulit sepertinya untuk ke sana

    ReplyDelete
  18. Wah sangat menarik membaca postingan Mbak Arni ini dalam memperkenalkan Kampung Kelahirannya. Even asli orang Bali tapi tanah kelahiran kita tetap berkesan ya Mbak. Apalagi kalau lahir dan besar di sana. Saya juga meski orang Sulawesi tapi tanah kelahiran dan tempat tinggal saya dari kecil sampai sebelum menikah di Papua.

    Btw saya baru sempat jalan-jalan ke Kolaka. Keluarga saya juga banyak yg tinggal di sana (desanya dekat dengan Antam) tapi kalau ke Kendari belum pernah sih padahal ada keluarga juga di sana. Nantilah kalau ada kesempatan lagi mau mengunjungi Kendari :)

    ReplyDelete
  19. Bapakku asli Bugis mba, aku pun masih punya beberapa sodara yang tinggal di Makassar, Palopo, sama beberapa kota lainnya yang ada di Sulawesi Selatan

    ReplyDelete
  20. mba arni aku belum pernah menjejakkan kaki di sulawesi semoga ada rejeki dan umur untuk bisa melihat keindahan pulau labengki dan air terjun moramo serta mencicipi wisata kulinernya yang bikin ngiler

    ReplyDelete
  21. Jujur saya juga tidak terlalu mengenal Kendari kak. Tapi baca tulisan ini makin tahu dan jadi kagum. Ingin sekali ke sana dan menikmati taman lautnya, cantik sekali.

    ReplyDelete
  22. Indonesia gak akan ada habisnya kalau diceritain.. Tiap provinsi, tiap kota, bahkan tiap desanya punya ciri khas masing-masing.

    Ini masih 1 kota dibuat artikel bisa sepanjang ini. Kalau satu indonesia dibahas bisa jadi buku berapa halaman ini..

    Btw. Saya dari Kediri. Jiwa overproud saya muncul setelah di mention di artikel mbak arni wahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaha orang Kedirinya muncul
      Jadi kapan kita makan nadi goreng arang, mas?

      Delete
  23. Indahnya surga dunia di Kendari jadi pengen kesana. Tertarik dengan wakatobi dan kulinernya OMG asli itu aja udah bikin pengen pas baca cerita di blog ini semakin-makin deh huuu... semoga suatu hari nanti bisa ke Kendari bersama keluarga amin....

    ReplyDelete
  24. Wah jadi pengin ke Kendari kak Arni. Banyak obyek wisatanya ya di sana. Juga pengin ke Wakatobi. Kucingku kuberi nama Wakatobi karena aku pengin suatu saat ke sanaπŸ˜€
    Salam hangat kak Arni
    @dewi_puspa

    ReplyDelete
  25. Masya Allaaah .. kuberdecak kagum sama KENDARI
    serius aku ga tau itu makanan aslinya, ga tau ada tambang emasnya, dan sejuta ga tau lainnya

    AKu taunya Kendari itu Sultra dan dekat Wakatobi udah

    Makasih banget aku jadi meniatkan destinasi selanjutnya ke sana yaaaaa

    ReplyDelete
  26. I love your post Makprem, keknya next collab kita bikin mi saja tentang Sultra. Supaya pada ndak bingung mau tulis apa dan lebih mengenalkan lagi Sultra. Luv luuuvvv..

    ReplyDelete
  27. Hahaha ada di orang yang gak tahu posisi Kendari itu dimana, Kak? Saya ingat dulu ada teman rekan admin IMFI dari salah satu kota di Jawa yang bertanya sama saya, apa betul di Sulawesi Tenggara itu ada nama kampung (KAMPUNG) Bau-bau dan Wangi-wangi?

    ReplyDelete
  28. uhuuuii, saya jadi terhura karena prolognyaa ini menginspirasi dari 'call a friendku' dulu yaaa, hihihih.

    parah memang ya Kak, masih banyak kasian yang kira SULTRA itu SULTENG, weleeeeh.
    kalau cerita tentang daerah, dan wisata selalu loooove tulisan Mamak Prema, mengalir indaah. Jadi kapan balik lagi Kak? Bagus ini kita ke Pantai terus makan sate Pokemon eehh Pokea sambil makan Sikatto juga toh? ;)

    ReplyDelete
  29. Satu kata untuk cerita yg ini, jahat!!! Naluri liburan seketika muncul. Tapi emang benar kalau Sulawesi Tenggara itu menyimpan banyak tempat yang sangat indah dan rugi kalau dilewatkan :)

    ReplyDelete