Search This Blog

Friday, January 19, 2018

Mudik ; Sebuah Perjalanan Mencumbu Rindu



Ketika bulir-bulir rindu terasa memenuhi ruang hati, ketika romansa masa lalu seringkali lewat sekelebat dalam ingatan dan butiran hangat terasa mulai menggenang di ujung pelupuk mata setiap kali terhubung dengan yang tercinta di ujung  ponsel, inilah saatnya memutuskan untuk pulang.  Ya, pulang.  Ke kampung halaman.  Menemui yang tercinta.  Mengukir cerita baru.  Membaur dalam pelukan hangat.  Mudik, begitu kata sebagian orang.

 “Terdampar” jauh dari kampung halaman, terkadang menghadirkan rasa rindu yang melonjak-lonjak.  Bukan  tentang susah move on dari masa lalu, tapi memang kenangan itu hadir untuk mengingatkan kita akan keindahan masa kecil, tentang dapur yang menyajikan olahan penuh cinta dari tangan hangat Ibunda, meski itu hanya berupa nasi putih diberi sejumput garam dengan beberapa tetes minyak kelapa yang juga buatan tangan, dengan sebutir telur ayam kampung dibelah empat, hasil panen Bapak di pagi hari.  Tentang kebun di samping rumah yang selalu menghadirkan sayuran dan buah-buahan segar, hasil kerja keras Bapak setiap sore sepulang kantor.  Belum lagi kenangan kegembiraan dan kebersamaan dengan para sahabat di masa sekolah.  Ah… benar-benar memanggil pulang rasanya.


Maka inilah, sepenggal kisah mencumbu rindu dalam balutan cerita mudik.


Keluarga Adalah Tempat Untuk Pulang



Keluarga adalah mereka yang siap menerima kita apa adanya.  Keluarga adalah puisi terindah penuh makna, irama termerdu dalam cakap dan canda, catatan kenangan manis kebersamaan.  Merantau belasan tahun, seringkali alam bawah sadar saya menghadirkan mimpi dengan latar belakang kehidupan masa kecil.  Tentang kamar mungil di salah satu sisi rumah.  Tentang pojok membaca favorit saya di salah satu sudut.  Tentang ruang-ruang dan meja makan tempat kami dulu menghabiskan waktu menyantap makanan masakan Ibu.



Saya juga tak mengerti mengapa saya sering bermimpi seperti ini.  Buat saya agak aneh, karena yang saya mimpikan adalah benar-benar rumah masa lalu.  Yang kondisinya belum direnovasi seperti sekarang.  Rumah yang saya tempati sejak masih piyik hingga SMA.  Setelahnya rumah kami direnovasi, dengan beberapa ruanng tambahan, dengan ukuran yang lebih besar dan lega, dengan posisi kamar saya yang berpindah ke sisi lain.  Rumah baru ini saya tempati hingga lulus kuliah, sebelum kemudian merantau ke kota lain karena tugas pekerjaan.


Tapi di atas semua itu, ada kehangatan  dalam keluarga yang rasanya belum tergantikan hingga saat ini.  Dan akhirnya, di penghujung 2017 kemarin, kami memutuskan untuk pulang.  Oh oke, mungkin saya lebay ya, mau mudik aja pakai rasa mendalam begini.  Padahal khan mudiknya dekat, hanya 3 jam perjalanan dengan pesawat (ditambah 1 jam karena perbedaan waktu).  Jakarta – Kendari mah gampang.  Penerbangan setiap hari juga ada.  Tapi ya gitu, saya memang jarang mudik.  Belum tentu setahun sekali.


Alasan pertama adalah Prema sudah sekolah.  Gak bisa sesuka hati pengen liburan.  Mudik kalau  hanya 1 atau 2 hari pastinya gak puas.  Jadi ya nunggu libur sekolah dulu.  Alasan kedua, sejak menikah, tujuan mudik kami ada dua : Kendari ke rumah orang tua saya dan Bali ke rumah orang tua suami.   Harus adil dong ya.  Gak bisa kami ke Kendari terus atau ke Bali terus.  Belum lagi kami juga sesekali pengen liburan ke tempat-tempat lainnya, kadang bareng-bareng dengan keluarga besar.  Alasan ketiga, Bapak dan Ibu saya cukup sering berkunjung ke Bogor.  Dalam setahun bisa 2 atau 3 kali beliau menengok kami.  Jadi frekuensi bertemu sebenarnya cukup sering.







Tapi…….

Tetap saja tak bisa menggantikan rasa rindu di hati saya.  Rindu pada suasana kampung.


Maka.  Mudik adalah kebutuhan jiwa yang merindu.  Yang memanggil-mangil untuk bercumbu.  Memenuhi hati yang syahdu.  Agar jangan sampai penuh debu.


Dalam hangat cinta keluarga

Begini Rasanya Jadi Alumni



Mudik artinya menguak kembali cerita masa lalu.  Termasuk cerita tentang masa sekolah, tentang para sahabat yang  mengisi ruang masa kecil dan remaja, tentang guru-guru yang memberi ilmu dan mengukir cerita tersendiri.


Beberapa kali mudik, saya biasanya menyempatkan diri untuk ngumpul bareng teman-teman.  Meski hanya sebentar, tapi cukup untuk melepas kangen.  Sekedar tahu kabar teman yang biasanya hanya ramai di grup-grup WA adalah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan sapa kata lewat tulisan.  Meski tak sempat bertemu dengan banyak teman, karena tentunya masing-masing punya kesibukan, tapi saya cukup bahagia.  




 
Bertemu Kawan-kawan SMP
Melihat semua sehat.  Tertawa bahagia bersama.  Itu sudah cukup.

Saya juga berkesempatan menyusuri kembali jalan-jalan yang dulu saya lalui saat bersekolah.  Semacam napak tilas jadinya.  Mengintip bangunan Sekolah yang masih berdiri kokoh, lalu membayangkan saya pernah memasuki gerbang itu.  Pernah berbaris rapi di lapangannya dan pernah berkejar-kejaran penuh kegembiraan di selasarnya.  Ah, saya tersenyum sendiri mengingat kenangan itu.  Kok, manis banget ya rasanya.


Sekolah ini sedikit banyak membentuk kepribadian saya sekarang.  Guru-guru hebat didalamnya juga punya peran memberi bekal tak terbaik untuk masa depan saya.  Meski tak sempat bertemu beliau-beliau tapi saya banyak mendengar cerita manis.  Itu sungguh pelipur rindu yang menyenangkan.


Bertemu Kawan-kawan Baru



Mudik bukan hanya tentang masa lalu.  Akhir tahun kemarin, saya berkesempatan bertemu dengan beberapa kawan blogger, ada yang memang sudah kenal sebelumnya, ada juga yang memang baru kenal dan pertama kali bertemu, meski begitu kami sudah sering terhubung lewat komunitas dan media sosial.


Bertemu kawan dengan hobi dan minat yang sama, menghadirkan bahagia tersendiri.  Rasanya seperti menemukan bagian dari keseharian.  Ketemunyapun jadi bukan sekedar foto-foto narsis (yang ini memang wajib sih) tapi juga diisi dengan sharing tentang “pekerjaan” yang kami tekuni bersama.
Be Malulo Blogger
Mereka masih muda-muda.  Saya mendadak merasa pengen ngumpetin KTP deh pas ngumpul-ngumpul tempo hari.  Eh, tapi, memang gak ada yang nanyain KTP juga sih ya hahaha.  Meskipun ya, begitulah,  anak-anak muda ini telah membuat saya menunggu hampir satu jam dari waktu yang telah ditentukan. Ckck… wahai anak muda, hargai janjimu, hargai waktumu.  Fyuuuh… untung janjiannya di mall, jadi saya gak yang bĂȘte-bete amat dan gak sampe dilalerin *melet ke Be Molulo Blogger*


Mencumbu Rindu, Menabung Kenangan



Yes. Seperti yang saya bilang  diatas, mudik selalu menyisakan banyak kisah.  Saya jadi punya tabungan kenangan yang memenuhi ruang memori.  Bahkan sampai saat menulis ini, bahagi untuk perjalanan yang hanya seminggu itu masih saja terasa hangat di hati.


Jadi kawan, sesekali dalam hidupmu, pulanglah ke rumah masa kecil.  Lakukan perjalanan hati.  Karena rumah, keluarga, sahabat adalah tempat untuk pulang.

Sudahkah kamu menelpon orang terkasih hari ini?






11 comments:

  1. Baca ini jadi pengen pulang ke Malang mbak, saya juga rindu Bali...7 tahun bukan waktu yg sebentar ketika merantau disana...saya suka kalimat 'Keluarga adalah mereka yang siap menerima kita apa adanya'...yeesssss setuju

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pernah tinggal di Bali ya mbak
      Saya malah belum pernah tinggal di Bali. Rata-rata kalau ke Bali hanya untuk liburan atau karena ada acara keluarga. Paling lama seminggu doang

      Delete
  2. I feel you, Mbok. Orang tuaku di Jambi, mertua di Pemalang. Dulu habis nikah aku pengen tinggal di Jogja, karena emang aku sebelumnya udah hidup di sana. Tapi dengan pertimbangan satu dan lain hal, termasuk biar deketin salah satu orang tua, aku pilih pindah ke Pemalang. Kenapa? Biar tiap tahun aku nggak ada tujuan mudik lain kecuali ke Jambi, tempat orang tuaku. Bayangin misalnya kami tinggal di Jogja, tiap mau mudik pasti pertimbangannya: mau ke Pemalang atau Jambi. Yah, walaupun Jogja-Pemalang cuma 6-7 jam perjalanan darat, tapi kalau lama nggak ketemu kan nggak bisa juga cuma sebentar.

    Etapi aku mudik ke Jambi itu buat nyambangin orang tuaku. Kalau kenangan masa kecilku semuanya terhampar di Palembang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas. Tinggal berjauhan dari orang tua itu rasanya kangen setiap hari
      Tapi semua ada plus minusnya sih. Jauh dari orang tua menjadikan kita mau gak mau suka gak suka harus belajar mandiri
      Yang paling sedih sebenarnya saat orang tua sakit dan kita gak bisa yang mudik dadakan karena beberapa kendala, huhuhu itu rasanya pengen punya pintu kemana saja milik Doraemon deh

      Delete
  3. Keluarga adalah harta paling berharg dlm.hidup.kita ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak
      keluarga itu adalah mereka yang menerima kita apa adanya, seperti apapun keadaan kita

      Delete
  4. Terasa sekali olehku mbak Arni menulis ini dengan rasa yang mendalam. Lewat tutur kata dan foto2, ada bahagia dan haru yang turut kurasa mbak. Lebur kah seluruh rindu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum seluruh rindu sih
      Tapi minimal terkikis sedikit rindunya
      Makasi mbak Rien

      Delete
  5. Duh jadi mewek pengen mudik juga T.T
    Ooo di Kendari jg ada ya perhimpunan blogger2nya? Kok bisa tahu sih Mbak Arni?
    Seneng ya bisa ketemu keluarga dan ketemu tmn2 baru :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mudik mudik
      Iya di Kendari ternyata ada perkumpulan bloggernya. Aku juga baru tau pas mudik itu

      Delete
  6. aaaahhhh,,, padahal januari kemaren mah daku ada di kendari juga kak Arni,,, itu kok bisa ketemu2 tanpaku? hehehe... btw aaaah kabita aayam betutunyaaaaaa

    ReplyDelete