Search This Blog

Wednesday, January 16, 2019

10 Tahun Kemudian




Beberapa hari terakhir media sosial diramaikan dengan hastag #10yearschallenge yang ditandai dengan diunggahnya foto-foto netizen dalam perbandingan 10 tahun, 2009 vs 2019.  Seru aja melihatnya.  Betapa waktu berlalu begitu cepat, melesat bagai anak panah dan tak mungkin diputar kembali.  Membuka kembali file-file lama sekaligus menghadirkan kembali kenangan yang mengikutinya.  Banyak cerita lama yang terungkap kembali, banyak kisah manis yang menyertai, banyak perubahan yang nampak terpampang nyata.


Waktu 10 tahun tentunya bukanlah waktu yang singkat.  Anak-anak yang bertumbuh pesat, baik kemampuan akademis, fisik, spiritual dan segalanya.  Usia  ikut beranjak tak muda lagi yang semoga disertai kedewasaan pikir, ucap dan laku.

Adalah sebuah kebetulan, tahun 2019 menjadi tahun politik buat Indonesia tercinta.  Tahun panas, kata sebagian orang.  Err… sejujurnya sih sudah sejak 5 tahun terakhir, politik Indonesia terasa agak gimanaaa gitu.  Linimasa media sosial tak jarang diwarnai dengan perang argumentasi, mulai dari yang asik dibaca hingga yang bikin sepet mata karena pemilihan diksi yang teramat kasar.  Duuuh #ngelusdada aja deh.

Sungguh, hadirnya challenge menjadi hiburan tersendiri.  Tak ada saling ejek pilihan politik, tak ada maki-makian kasar, setidaknya di linimasa saya.  Semua asyik bernostalgia, tersenyum mengenang kisah manis dari foto-foto 10 tahun yang lalu.  Adem, damai dan nyaman.  Seneng deh

Metamorfosa 10 tahun

Biar kekinian,saya juga jadi ikut-ikutan posting foto deh.  Dan pilihan jatuh pada 4 foto di bawah ini.  Aih dulu saya langsiiiing, 43 kg saja.  Sekarang huhu naik 10 kg #umpetinlengan.  Yang paling bikin terharu, ada foto di akhir 2009 ketika saya sedang hamil, jaman itu belum ngetrend bikin foto-foto cantik bumil.  Jadi gak banyak punya foto kenangan saat hamil.  Rasanya kayak nemu harta karun, fotonya di halaman belakang rumah kecil kami.

Membayangkan masa-masa itu, melempar kembali ingatan pada kisah perjuangan untuk bisa hamil.  Penantian selama 4 tahun dengan bolak-balik terbaring di Rumah Sakit terbayar lunas dengan kehadiran Prema, yang Maret nanti akan berusia 9 tahun.  Terimakasih Tuhan.

Selisih bobot 10 kg lebih

Yang atas, lagi hamil 5 bulan. Yang bawah, Cah bagus udah bisa diajak narsis bareng
  
Membuka foto lama membuat saya melangitkan syukur tak terhingga atas hidup yang saya jalani. Memang tak semulus jalan tol, tapi sungguh 10 tahun terakhir saya merasa hidup menjadi lebih hidup.  Bukan soal pencapaian prestasi yang luar biasa, bukan pula soal materi yang melimpah, tapi ini soal hati.  Bersyukur atas kesehatan, bersyukur atas pertumbuhan dan perkembangan Prema, bersyukur untuk pasangan yang selalu penuh cinta dan kasih, bersyukur untuk keluarga yang saling support, teman dan sahabat yang selalu hadir penuh warna.

1 dekade yang lalu, saya masih jadi orang kantoran. Bangun subuh, berangkat terburu-buru setiap setiap pagi, mengejar kereta, lalu naik bis atau berjalan kaki. Duduk manis di belakanh meja kerja, meeting sana sini, berdiri memberi training ke kantor-kantor cabang dst. Lalu kembali ke rumah saat matahari sudah beranjak berbagi sinarnya di belahan bumi yang lain.

Sebuah keputusan besar kemudian saya ambil 8 tahun lalu. Full time mom, di rumah, bersama Cah bagus. Menjadi orang pertama yang mendengar celotehnya, mendampingi tumbuh kembangnya, merawat sehat dan sakitnya. Tetap bangun pagi, memasak menu terbaik untuk keluarga.

Bahagiakah saya?
Lelahkah?
Gak bosan?

Hmm... Setiap pilihan ada konsekwensinya. Dan saya sadar betul akan hal itu. Tak perlu manampik kenyataan, ada kok masa-masanya terasa penat. Ada kok saatnya lelah menyerang. Terkadang keinginan untuk kembali bekerja kantoran itu datang. Apalagi kalau Prema sedang bertingkah. Huft... emake patah hati. Tapi, saat melihat senyum cah bagus kok yo rasanya nyeeees. Menguap deh semua bisikan-bisikan hati yang aneh-aneh. 

Baca juga : Benarkah Ibu Rumah Tangga Gak ada istirahatnya?

Lalu saya tergelitik membuat resolusi jadinya.  Biarin deh telat ya.  Orang-orang mah bikinnya sebelum tahun baru, lha saya baru bikin setelah Januari berjalan belasan hari hehe.  Ini dia resolusi saya

Menua dengan bugar dan sehat

Huft… PR banget ini buat saya.  Setahun terakhir, semangat olahraga menguap entah ke mana.  BB naik pesat sampai melampaui angka 50 kg.  Hampir mencapai BB saya saat hamil dulu.  Bukan hanya soal BB yang bikin galau sih, tapi saya kemudian merasa kurang nyaman dengan tubuh sendiri.  Ngantukan, malas dan cepat capek.  Jalan dikit aja udah ngos-ngosan.  Habis nyapu ngepel di rumah sendiri aja, rasanya langsung lemes. Hiks

Makanya saya bertekad untuk kembali rutin olahraga sekaligus menjaga pola makan yang malah lupa nginjek rem.  Bablas angine.  Apalagi kami baru saja liburan akhir tahun.  Ehk! Jangan ditanya saya makan apa aja.  Pokoknya saat liburan, saatnya nggragas hahaha.  Tahu-tahu, pulang liburan celana sesek semua, baju meleyot kanan kiri karena gumpalan lemak, kebaya mengirimkan surat protes karena dipaksa ngatupin kancing.  Woooo… sesal datang belakangan.

Jadi, doakan saya biar kembali rajin olahraga ya man teman.  Doakan saya agar bisa mengendalikan diri.  Tujuan utamanya sehat dan bugar sampai tua.  Kalau diikuti langsing, anggap saja bonus.  Mimpi saya, bisa menikmati hari tua dalam keadaan sehat, dan menyaksikan Prema bertumbuh dewasa.

Mari menua dengan bahagia
  
Menua dengan rasa syukur, penuh cinta dan kasih

Tak ada yang lebih indah dari menjalani hari-hari dalam damai dan bahagia.  Suatu hari saya pernah menuliskan kalimat ini di feed IG

Ketika suatu hari kita dihadapkan pada pilihan : bahagia atau beryukur.  Maka pilihlah BERSYUKUR”

Saat bersyukur kita akan bahagia tanpa syarat
Saat bersyukur kita akan hidup damai
Saat bersyukur kita akan memandang dan memperlakukan semua makhluk dengan penuh cinta dan kasih
Saat bersyukur kita akan berpikir, berkata dan berbuat untuk kebaikan semesta

Tulisan yang menjadi pengingat diri, untuk menjadi pribadi yang lebih baik.  

Saya sadar betul, saya masih jauh dari keindahan tulisan itu.  Saya masih jauh dari sempurna.  Saya masih tertatih dalam melangkah, masih harus banyak belajar untuk naik kelas.  Tapi menulis adalah mengingatkan diri sendiri, kelak, jika saya terlupa, semoga tulisan ini kembali hadir sebagai pengingat.  Kelak, jika saya tersesat, semoga tulisan ini kembali menuntun ke jalan yang benar.
Tahun ini, usia saya akan sampai di angka 40 tahun.  Kata orang life begin at forty.  Sebagian lagi bilang, 40 adalah usia cantik.  Apapun itu, saya ingin menjadi orang yang lebih bertanggung jawab terhadap setiap pilihan langkah, kata dan pikir.  

10 Tahun Kemudian, mau bagaimana?

Hmm… menuliskan ini membuat saya berandai-andai ke masa depan.  Ah, saya tak mau mendahului Tuhan.  Tapi kalau saya diberi umur panjang dan kesehatan, lalu blog ini masih hidup, mungkin saya akan senyum-senyum sendiri membaca tulisan ini.  Atau minimal, akan menjadi kenangan buat Prema.  Setidaknya dia tahu, banyak pesan cinta untuknya di sini.  Tertulis dalam bait-bait diksi, dari ibu, yang berusaha sepenuh hati mengalirkan cinta dan kasih untuknya.

Dan saya akan berusaha telus menulis.  Merangkai kata, berbagi cerita.  Karena memori kita terbatas, maka menulis adalah salah satu cara mengukir kenangan.  Mari isi 10 tahun ke depan dengan kenangan indah dan pesan kebaikan.

Salam

Arni





23 comments:

  1. 10 tahun ternyata nggak banyak perubahan mbak. tetep cantik

    ReplyDelete
  2. Semoga 10 tahun lagi tetap diberikan kesehatan ya mbak. tetap semangat menulis biar buat kenang2an diri sendiri di lain waktu, heheh

    ReplyDelete
  3. Kayaknya sama aje deh Mbok, 10 tahun lalu atau sekarang. Berarti sehat dan hidupmu bahagia. Semoga selalu demikian ya, semua harapannya dikabulkan oleh Sang Pencipta. Amin

    ReplyDelete
  4. seruuu juga #10yearschallenge di share di blog hihiiii, akusihh ditahun 2009 ga ada foto huhu, jadi ga ikut meramaikan deh wkkwk

    ReplyDelete
  5. gak beda jauh hehehe.. tetep fresh. Banyak bersyukur bikin bahagia ya mba.Banyak bahagia bikin awetmuda dan sehat

    ReplyDelete
  6. Wah sama Mbak. Tahun ini eh tepatnya tanggal 18 Januari kemarin saya juga 40 tahun. Hehehe...

    ReplyDelete
  7. Semoga 10 tahun mendatang, mba tetap diberikan kesehatan ya. Tetap semangat menulis dan berbagi inspirasi.

    Bahagia selalu mba.

    ReplyDelete
  8. Wah iyaa rame bener nih challenge upload foto 10 tahun yang lalu. Saya sempat kepikiran mau upload juga, tapi kok gak jadi-jadi ya. Kelupaan terus. Hahhaha

    ReplyDelete
  9. Kalau saya mendoakannya, semoga dalam jalan 10 tahun mendatang kite bisa ketemu yah mbak, hahaha.. Btw udah pernah ketemu satu event belum yah 😁😘

    ReplyDelete
  10. 10 tahun kemudian...
    Alhamdulillah yaaaa, banyak hal yang patut disyukuri. Klau flashback ke belakang emang ada aja yg keliatannya gak mudah, tapi ternyata kita bisa survive jg ya mabk :D

    ReplyDelete
  11. 10 taonn kemudian, semoga teruss dikasih kesehatan ya mbak. Banyak hal yang patut kita disyukuri

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah banyak yg datang, banyak yg pergi tapi semua disyukuri saja

    ReplyDelete
  13. Tapi yg kebaya putih tuh cantik kok. Gak beda lah sama 10 tahun lalu. Kalau masalah berat badan, wajar kan namanya juga ibu. Makin lama makin kuat, jadi makannya juga kudu banyak. Hehe

    ReplyDelete
  14. 10 tahun yang lalu dengan sekarang sepertinya gak kelihatan perubahan fisiknya, Mbak. Apalagi ternyata udah mau 40 tahun. Awet mudah, nih :)

    ReplyDelete
  15. Rame2 pada upload #10yearschallenge dan aku gigit jari. Karena 10 tahun yg lalu aku belum berhijab Mbak. Kusimpan sendiri aja fotoku sambil senyum2 dan bersyukur masih diberikan sehat sampai hari ini.

    Aku setuju dengan lebih memilih bersyukur. Iya, ketika hati penuh rasa syukur akan membuat apa2 tuh berpikir positif dan jauh dari energi negatif sekalipun sedang ada masalah.

    Btw, Prema sama nih bulan lahirnya denganku. Anak pisces yak pasti kreatif ! hehehehehe

    ReplyDelete
  16. Gini nih serunya jadi blogger. Asal masih ada umur dan kemauan menulis, semua hal bisa terekam dan bakalan sukses bikin ketawa atau malah mengharu biru. Btw, 10 tahun terakhir aku juga mengalami banyak hal yang benar-benar di luar ekspektasiku. Tapi kembali lagi, selalu yakin bahwa apa yang dipilihkan Tuhan itu yang terbaik. 10 tahun yang akan datang, aku pun memiliki harapan seperti Mbak, menua dengan bahagia dan sebisa mungkin tetap punya value dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  17. Mbak Arni..saya suka dengan resolusinya yang ingin menua dengan sehat diliputi rasa syukur dengan cinta kasih.
    Semoga tercapai resolusinya. Selalu sehat bersama suami dan Prema , cah bagus tercinta

    ReplyDelete
  18. Tetap terlihat cantik loh mba biarpun 10 tahun berlalu, aku mah malah tambah ndut hehe

    ReplyDelete
  19. Masih langsung kok mba, seriously 😊😍 indees waktu ga bs diputar, 10 tahun lalu kemarin dan kini ada aja bedanya yah, lucu untuk dikenang, tp memberikan oembeljaran juga

    ReplyDelete
  20. Yap bener harus banyak bersyukur apa yang Tuhan beri selama ini.

    ReplyDelete
  21. Semoga di sepuluh tahun kemudian selalu sehat dan bahagia selalu ya mbak.

    ReplyDelete
  22. Setelah 10 tahun tetap sehat Mba Erni, keren euy!

    Semoga 10 tahun mendatang pun begitu ya ~

    ReplyDelete
  23. ternyata rame bener nih challenge upload foto 10 tahun yang lalu. Saya sempat kepikiran mau upload juga, tapi kok gak jadi-jadi ya. Kelupaan terus. Hahhaha

    ReplyDelete