Search This Blog

Thursday, May 17, 2018

Membangun Rasa Percaya Diri Anak



“Sayaaaaa…….!” Seru Prema setiap kali mengikuti kegiatan dan ada tawaran untuk maju ke depan, bernyanyi, perform atau sekedar menjawab pertanyaan

Bahkan kadang-kadang, baru mendengar kata, “Siapa yang …,” saja Prema sudah angkat tangan duluan.  Pertanyaannya apa, disuruh ngapain aja belum tau.   Mungkin dia berprinsip angkat tangan aja dulu, maju aja dulu, soal jawaban nantilah mikirnya di depan. Haha

Jujur saja, kadang saya merasa rasa percaya diri Prema agak overdosis.  Gak ada takut atau mindernya sama sekali, meski bertemu orang baru atau berada di tempat baru. Entah nurun dari siapa deh, padahal mah emaknya pemalu dan kalem gini #dilemparbakiakseIndonesiaRaya

Sebagai emak kekinian, saya beberapa kali membagikan (baca : pamer) foto-foto atau video Prema dalam posisi tampil di depan publik.  Yang joget-jogetlah, yang nyanyi, baca cerita ataupun aksi-aksi lainnya.  Harap maklum pemirsa, saya hanya emak-emak yang suka pamer dan berusaha waras dengan bersosialisasi lewat media sosial.  Yak, yang mulai mual-mual silakan minum obat diare dulu #melet
Dari postingan-postingan itu, seringkali ada yang komen, “Prema hebat ya berani tampil,” atau “Wow keren, percaya dirinya tinggi,” dan kalimat-kalimat serupa lainnya.  Tapi yang menarik, beberapa kawan bertanya pada saya, “Apa sih resepnya membuat anak percaya diri?”

Prema 4 tahun, pertamakali tampil di depan publik mewakili TK dalam lomba celoteh anak

Huft.  Saya garuk-garuk kepala deh kalau udah pada nanya begini.  Karena jujur saja, saya tak punya resep khusus.  Bahkan kami tak pernah dengan sengaja bertekad ataupun memaksa Prema buat tampil, angkat tangan dan maju ke depan.  Err.. paling ya kadang saya berbisik aja sih, “Prema berani gak maju seperti kakak itu?”

Berhubung gak punya trik khusus tapi gak enak hati sama yang suka nanya-nanya, baiklah saya coba berbagi cara sederhana kami aja ya.  Silakan siapkan cemilan, teh atau kopi buat menyimak dongeng berikut ini *prok prok prok jadi apa*

Yakinkan bahwa dia bisa

Terkadang rasa takut salah, merasa gak percaya diri, takut ditertawai dan semacamnya muncul ketika anak harus tampil atau melakukan sesuatu.  Peluk dan bisikkan kepadanya, “kakak/adik pasti bisa.  Yakin deh!” atau yang paling asyik ajak nyanyi bersama, “Jangan katakan tidak bisa, kalau belum mencoba,” Nadanya gimana? Ya terserah kreasi masing-masing deh

Buatlah agar anak selalu berafirmasi positif.  Jangan memikirkan gagal, gagal dan gagal.  Tapi ganti jadi bisa, bisa dan bisa.  Ulang terus hingga semesta mendengar dan mendukung.

Beri motivasi dengan kisah-kisah inspiratif

Banyak sekali cerita kesuksesan yang awalnya berasal dari kegagalan, diremehkan, tak dianggap, dan sebagainya.  Namun pada akhirnya mereka sukses karena semangat pantang menyerah dan selalu bangkit untuk mencoba.

Prema, dalam salah satu kegiatan di RRI Kota Bogor

 “Ini pas Ibu lagi ngapain?’ Prema menunjuk salah satu foto di album keluarga kami

“Oh itu pas ibu ikut lomba pidato tingkat nasional,”

“Menang gak?”

“Menang dong.  Waktu itu Ibu juara 3 lho,”

“Prema juga bisa!” katanya penuh semangat

Ajak anak-anak menonton atau mendengar cerita tentang kisah-kisah sukses seperti ini.  Lakukan secara rutin.  Selain menambah rasa percaya diri dan keyakinan si kecil, kegiatan ini juga akan mengakrabkan dan menciptakan bonding yang baik antar sesama anggota keluarga.

Beri semangat saat dia gagal

“Memangnya Ibu pernah jatuh waktu belajar naik sepeda?” tanya Prema sembari meringis kesakitan karena jatuh saat mencoba berlatih sepeda roda dua di umur 5 tahun

“Pernah.  Berkali-kali malah.  Tapi Ibu gak menyerah.  Ibu coba terus sampai akhirnya berhasil,” jawab saya meyakinkan dia



Dan begitulah.  Karena semangatnya tinggi dan merasa tak sendiri, Prema bangkit lagi, melupakan perihnya kulit dan siap menggowes pedal sepedanya.

Ayah Bunda tentunya pernah mengalami kegagalan.  Saya pernah.  Rasanya kita semua pernah, sekecil apapun itu.  Tak perlu malu mengakui kegagalan.  Jadikan kisah kita sebagai contoh kebangkitan setelah gagal.  Anak adalah peniru ulung.  Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, melihat kesuksesan Ayah Bundanya saja, anak-anak pasti akan berbinar.

Mendengar cerita bahwa orang tuanya juga pernah gagal lalu bangkit lagi, si kecil pasti akan merasa senasib, lalu termotivasi untuk menjadi lebih baik.

Beri Apresiasi pada setiap proses dan hasilnya

Sekedar pelukan hangat, kalimat pujian, senyuman manis adalah apresiasi terbaik yang diperoleh si kecil dari orang tuanya.  Apapun hasil yang diperoleh si kecil, tetap berikan apresiasi.  Memarahinya atau menunjukkan kekecewaan hanya akan membuat rasa percaya dirinya down dan bisa berbuntut panjang tak bersemangat di kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Melatih percaya diri saat les renang
Memberi kritik dengan cara yang tepat

Oh sebenarnya saya malu menuliskan ini.  Karena kalau lagi kesel kadang saya juga lepas control hingga mengkritik dengan pedas atau bahkan memakai nada tinggi melengking.  Berubah jadi mak lampir dah pokoknya.

Tapi kalau lagi bener, kritiknya pakai cara halus kok. Dan biasanya ini lebih mudah diterima oleh anak-anak.  Saat jatuh misalnya, alih-alih bilang, “matanya kemana sih, batu segede itu aja gak keliatan!” rasanya lebih enak kalau bilang, “lain kali lebih hati-hati ya,”

Dan satu lagi, sebaiknya jangan mengkritik anak di depan umum yang akan membuat dia malu.  Boro-boro menerima kritik, bisa-bisa si kecil malah makin ngambek.

Beri pujian dan pengakuan saat mereka melakukan kebaikan atau saat mereka benar

Yes.  Kadang gengsi mengalahkan segalanya.  Sering lho kita lupa memuji atau sekedar mengucap terimakasih saat si kecil melakukan kebaikan, padahal dengan mengucap terimakasih, si kecil akan merasa dihargai dan menjadi lebih percaya diri untuk berbuat baik lagi.

Pun demikian saat mereka berargumen.  Kadang orang tua gengsi lho mengakui kalau si kecil benar dan kita yang salah.  Kita sering menuntut anak untuk minta maaf saat salah, tapi lupa mengakui saat mereka benar, bahkan malu mengucap maaf.  Ini akan mengecilkan rasa percaya dirinya karena merasa sia-sia atau tak dihargai.


Kenali Potensi Anak Kita

Ada anak yang senang berenang, bernyanyi, melukis, menari, olahrga, bercerita dan lain sebagainya. Anak tentunya bukan miniatur kita, orang tuanya.  Anak adalah pribadi independent yang bebas menentukan keinginan sesuai minat dan bakatnya.  Tugas kita adalah mengenali potensinya lalu mengarahkannya di jalan yang tepat.

Tak perlu memaksa anak les ini itu demi ambisi orang tuanya.  Rasa terpaksa menjalani semua itu hanya akan melunturkan rasa percaya dirinya.  Jadilah orang tua bijak yang menghargai keinginan anak.

Biarkan dia mengikuti kegiatan yang menyenangkan.  Prema, suka sekali kegiatan outdoor.  Pokoknya semua yang berbau alam dan petualangan pasti membuatnya bahagia. Jadi, tak ada alasan takut kotor, panas atau lelah yang dapat menghambat pengembangan potensinya.

Prema dalam salah satu kegiatan alam
****

Huft gak terasa panjang juga dongengnya.  Menuliskan ini sekaligus sebagai pengingat diri sendiri.  Saya bukan ibu sempurna.  Saya juga bukan Ibu yang selalu tersenyum manis sepanjang hari dengan stock sabar yang berlipat ganda.  Saya sering keluar tanduk juga.  Saya sering melengking nyaring juga.  Dan saya sering bersikap keras pada Prema.

Menuliskan ini, menjadi pengingat agar saya tak sekedar berteori.  Karena menjadi orang tua, menjadi ibu adalah belajar sepanjang masa, di sekolah kehidupan bernama anak, bernama keluarga.

Terimakasih kepada yang sudah bertanya di beberapa postingan lalu ya.  Semoga bermanfaat.



Salam

Arni

Tulisan ini merupakan post respon dari Grup #KEBloggingCollab Butet Manurung terhadap tulisan Mak Merry Meirida di website KEB tentang melatih dan menyikapi anak kidal. Mak Merry merupakan pemilik Blog  http://www.meirida.my.id Ibu satu anak yang menyukai K-Drama.





5 comments:

  1. wah terimakasih mba, aku sedang belajar melatih rasa PD pada anak. karena anakku memiliki tanda lahir besar di wajahnya. sebagai orang tua ada ketakutan nanti anak menjadi korban bully, jadi mumpung masih balita ingin melatih sejak dini. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak semoga bermanfaat
      Ou sepertinya saya harus menambah satu lagi ya point di tulisan ini, tentang kondisi fisik yang membuat gak PD
      Yang penting buktikan dengan prestasi, kebaikan hati, sikap dan laku :)

      Delete
  2. Kaaak, thanks sharingnya.
    noted semua.
    huaaa moga anak-anakku jg bisa PD kayak Kakak Prema :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama say
      Semoga bermanfaat ya
      Saya (dan Prema) juga masih harus banyak belajar

      Delete
  3. Noted Mbk... Bisa aku praktekin ke Juna

    ReplyDelete