Search This Blog

Tuesday, November 17, 2020

Bangku 1000 Kisah

 



Empat kali saya melintas di jalur ini. Dengan bangku taman cantik di sisi jalannya.

Pada lintasan pertama, sepasang remaja duduk di sana. Entah ada masalah apa, wajah perempuannya tampak sedih, marah dan galau. Sementara yang lelaki tampak sibuk menghibur, menenangkan sambil sesekali menyeka air mata di pipi pasangannya.

Saya berlalu. Dengan sepeda. Sembari menikmati pemandangan.

Melintas untuk kedua kalinya, wajah perempuan itu sudah jauh lebih tenang. Seutas senyum terukir di sana. Yang lelaki, juga tampak lega. Sesekali mengelus rambut pasangannya. Mereka berbincang dengan tenang.

Saya lewat saja. Tak terasa tersenyum. Sepertinya hati saya ikut lega karena mereka (mungkin) sudah baik-baik saja.

Ketiga kalinya, saya melintas lagi. Penghuni bangku sudah berganti. Kali ini sepasang kakek nenek. Duduk berdua, dengan tatapan penuh cinta satu sama lain. Kok saya tahu? Iya, dari kejauhan sebelum tiba di depan tempat ini, saya melihat kakek itu menggandeng tangan nenek, berjalan menuju bangku. Lalu mereka duduk di sana, dengan tangan tetap saling menggenggam. Saat saya lewat, nenek itu menyeka peluh di dahi kakek dengan saputangan

"Oma Opa, makan dulu yuk. Ditungguin mama di sana," suara seorang anak terdengar memanggil, mendekati kakek nenek tadi

Saya mengayuh sepeda dengan santai. Kali ini hati saya bersenandung bahagia. Memimpikan masa tua seperti Oma Opa tadi. Merawat cinta bersama.


Dan terakhir, saya kembali ke sini. Bangku ini kosong. Saya menepi sejenak. Memandang sekeliling. Angin berbisik di sela pepohonan. Seolah ingin berkabar banyak kisah.

Seandainya bangku ini bisa bicara, mungkin dia juga akan bercerita tak henti. Ratusan bahkan mungkin ribuan lakon yang dia simpan dalam ruang ingatannya. Dititipkan di dudukannya, di sandarannya, di kaki-kakinya, bahkan di rerumputan sekitarnya. Dia mendengar banyak. Menyimpan banyak. Dalam diam. Suka duka, bahagià sedih, gembira, tangis, semua ada di sini.

Setiap hari, selalu hadir cerita baru
Yang dititipkan padanya

Kita, mau menitipkan kisah apa?



9 comments:

  1. Saya suka tulisan ini..singkat..padat tapi menyimpan banyak cerita. Bikin yang baca jadi menerawang. Imajinatif 😄

    ReplyDelete
  2. Aaaaahh jadi pengin ikut gowes kak. Udah lama banget kayaknya ngga gowes, bertahun2 malahan. Ngga punya sepedanya :( akhirnya cuma bisa gowes di dalam rumah pake sepeda statis >.<
    btw sosweet kakek neneknya, suka ikut tersentuh sendiri kalau lihat kakek nenek lagi quality time berdua, apalagi di taman, kayak di film2 :D

    ReplyDelete
  3. Kalau lihat kakek nenek selalu bersama rasanya seneng ya, mereka sanggup mempertahankan cinta mereka

    ReplyDelete
  4. Cerita yang unik sarat akan makna. Kita akan meninggalkan cerita apa?

    ReplyDelete
  5. Semoga kita semua bisa terus berbahagia bersama sampai kakek nenek seperti kisah di atas, aaamiiin...

    ReplyDelete
  6. SUka ceritanya hehe. Buat cerita seperti ini menurut saya susah apalagi ceritanya terinspirasi dengan bangku dengan berjuta kisah. Hmm menitipkan kisah apa ya? hehe

    ReplyDelete
  7. Kisah yang seperti ini sudah jarang ditemukan lagi. Terkadang mereka malu menunjukan kemesraan padahal mereka kan sudah sah.

    ReplyDelete
  8. Mengamati bangku pun dapat menelurkan ide menulis blog yaa Mbak Arni. Bukti bahwa ide menulis itu bisa didapat dari mana saja, termasuk sambil bersepeda ya.

    ReplyDelete
  9. cerita yang seru, semoga kelak akan selalu bahagia sampai di hari tua tetap bahagia

    ReplyDelete