Search This Blog

Wednesday, April 18, 2018

Tampilan Baru Cah Bagus



Sejak akhir tahun kemarin, kami menyadari ada yang berbeda pada mata Prema.  Entah kenapa, seringkali intensitas berkedipnya terasa tak wajar, berkedip lebih sering terutama bila objek yang dilihat tak tepat berada di hadapannya atau tak berada dalam garis lurus pandangannya.  Tiba-tiba kepalanya menoleh, seolah menghalu bayang yang menghalang.  Bersamaan dengan kedipan yang tak biasa.  Kadangkala, saya juga melihat dia mengucek-ngucek mata seolah ada yang mengganggu pandangannya. 

Dengan pertimbangan itu, kami  kemudian memutuskan membawa Prema ke dokter mata.  Menggunakan kartu BPJS, mula-mula Prema saya ajak ke Klinik yang terdaftar sebagai fasilitas kesehatan tingkat satu di kartu kami.  Dari sana, Prema mendapat rujukan ke dokter mata.

Pemeriksaan ke dokter matapun dilakukan.  Ternyata, Prema mengalami silindris 0,25 di kedua matanya.  Menurut dokter yang memeriksa, silindris pada level ini masih bisa disembuhkan, jadi sebaiknya dibantu dengan kacamata.  Coba selama 6 bulan, setelah itu akan diperiksa kembali.

Pantas saja, saat belajar di Sekolahpun Prema sering agak terlambat, terutama jika posisi duduknya berada di barisan kiri atau kanan dari arah papan tulis.  Di kelas Prema, setiap minggu dilakukan pertukaran posisi duduk.  Jadi setiap anak akan merasakan semua posisi : depan, belakang, tengah, samping kanan atau samping kiri.  Prema selalu saja pulang paling akhir setiapkali duduk di samping kanan/kiri, karena dia belum selesai mencatat atau menyelesaikan tugasnya.  Rupanya dia kesulitan melihat ke papan tulis.

Singkat cerita, akhirnya Prema berkacamata.


Berkacamata Bukanlah Sebuah Kesalahan


Ngomong-ngomong soal kacamata, dokter sempat mengingatkan, bisa jadi Prema sudah membawa ‘bibit silindris’ sejak lahir.  Faktor genetis.  Saya memang berkacamata.  Bapak, ibu dan adik saya juga berkacamata.  Maka, bisa jadi sedikit tidak ada faktor genetis ini yang menurun ke Prema.

Jadi, saya ini sudah berkacamata sejak 21 tahun yang lalu, sudah jadi bagian dari rutinitas harian deh, terutama saat nonton, berhadapan dengan laptop atau bepergian.  Nah, sejak resign dari pekerjaan rutin kantoran sekitar 5 tahun lalu, kegiatan saya lebih banyak di rumah.  Saat masak atau beberes rumah, biasanya kacamata tak saya pakai, bukan apa-apa, rasanya kurang nyaman aja gedebag gedebug di rumah dan berkacamata, melorot terus karena keringatan, beruap pula bila terkena uap masakan yang baru matang.  Belum lagi saat iris cabai bawang, terus benerin kacamata, kepleset dikit dipastikan perih deh matanya.  Jadilah banyak  bolosnya berkacamata, padahal minus nambah melulu.  Ah, memang selalu ada alasan ya hahaha


Ndilalah, Prema kemudian harus berkacamata.  Dokter berpesan, wajib dipakai terus kecuali mandi dan tidur selama 6 bulan.  Maka Prema bersabda, “Ibu juga harus rajin dong pakai kacamatanya.  Prema mau pakai kalau ibu juga pakai!”

Makjleb.

Hmm… baiklah.  Mungkin ini cara Tuhan menegus saya supaya rajin berkacamata.  Jangan ngeluh melulu karena minus yang semakin bertambah dan penglihatan yang makin burem.  Ya jadinya sekarang saling mengingatkan deh untuk memakai kacamata setiap hari.

Awal-awal berkacamata, Prema masih sering minder.  Setiap ketemu teman, guru atau orang lain selalu saja ditanya, “itu kacamata apa, minus atau mainan?”

Ou, yang itu sih masih mendingan ya.  Ada juga yang rada-rada nyinyir bahkan menuduh.

“Memang matanya kenapa? Duh kasian ya kecil-kecil udah pakai kacamata,”

“Pasti kebanyakan main HP ya!”

Dan kalimat-kalimat sejenis lainnya.

Jujur saja, yang baper bukan hanya Prema.  Saya juga kadang ikutan baper.  Capek jelasinnya.  Tapi ya begitulah, selain menata hati sendiri kami juga harus mendukung Prema agar lebih percaya diri dengan kacamatanya.  Berkali-kali saya menguatkan dia saat mulai manyun karena pertanyaan dan pernyataan orang lain.  Berkali pula saya meyakinkan bahwa, “tak apa-apa kok pakai kacamata.  Kegantengannya malah bertambah,” hahahaha

Tuh.. ganteng khan ya Oom Tante?
Sekarang setelah berjalan hampir 2 bulan, Prema sudah lebih nyaman dan percaya diri dengan kacamatanya.  Saya juga mau gak mau sudah lebih rajin berkacamata walaupun di rumah.  Kalau dulu, dia gak mau difoto berkacamata, sekarang malah setiap mau foto dia memastikan dirinya harus berkacamata. “Biar ganteng!” begitu katanya.  Siap bos!

Klaim Kacamata Dengan BPJS Kesehatan


Seperti yang saya tulis di awal, kami menggunakan BPJS untuk klaim kacamata ini.  Jujur, awalnya saya tidak tahu kalau kacamatanya juga ditanggung BPJS.  Saya pikir hanya biaya konsul dan administrasinya saja.  Ternyata, begitu resep dikeluarkan, lalu kembali ke loket BPJS, saya malah diberi surat pengantar untuk klaim kacamata ke optik yang telah ditentukan.

Jadi, bagaimana prosedur klaimnya? Yuk kita runut ya

Faskes tingkat 1                                                        

Sama seperti prosedur BPJS pada umumnya, langkah pertama yang dilakukan adalah konsultasi/pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat 1.  Bisa Puskesmas, Klinik atau lembaga kesehatan lainnya yang sudah bekerjasama dengan BPJS.  Kecuali untuk kondisi gawat darurat, bisa langsung melalui IGD di Rumah Sakit rujukan. 
Prema, dengan keluhan pada mata seperti yang saya tuliskan di awal mendapat penanganan dokter umum di klinik yang kami kunjungi.  Dari sini, kami dirujuk ke RS pilihan.  Seperti biasa, kami dibebaskan memilih mau ke RS mana.  Waktu itu, saya memilih Hermina, yang memang lokasinya terdekat dari rumah dan ada dokter matanya.

Konsultasi Dokter Spesialis

Karena saya memilih RS Hermina, maka yang akan saya bahas tentu saja pelayanan di RS ini.  Khususnya Hermina Bogor.  Ini adalah kali kedua saya menggunakan fasilitas BPJS, setelah setahun yang lalu saya memanfaatkannya saat harus transfusi karena pendarahan berlebih.

Prosedurnya masih sama.  Bawa surat rujukan ke loket BPJS yang telah disediakan.  Lakukan pendaftaran lalu kita akan diarahkan menuju ke ruang dokter.  Perbedaan pelayanan hanya di tingkat ini saja kok, dalam arti loket pendaftaran pasien BPJS dan mandiri memang dibedakan.  Ini wajar menurut saya, agar pihak RS lebih mudah mengklasifiksikan pasien dan membuat laporan.

Dari loket, berlanjut pada antrian ke ruang dokter.  Tak ada perbedaan pasien mandiri atau BPJS disini.  Semua antri berdasarkan nomor urut kedatangan.  Jadi, gak ada ya ceritanya pasien BPJS dipanggil belakangan atau antri lebih lama.
Setelah pemeriksaan dan konsultasi, dokter memberikan resep dan surat pengantar untuk pembuatan kacamata sesuai kebutuhan masing-masing pasien. 

Loket BPJS, Kasir dan Apotek

Berbekal resep dan surat pengantar dari dokter, kami diarahkan kembali ke loket BPJS tempat pendaftaran awal tadi.  Karena rekomendasi untuk Prema adalah mengenakan kacamata dan tak ada resep, maka kami tak perlu ke apotek.  Hanya perlu menuntaskan beberapa administrasi (tanda tangan) saja di kasir.  Ou untuk urusan kasir, semua diperlakukan sama kok, baik pasien BPJS maupun mandiri, antri berdasarkan nomor antrian.

Di loket BPJS tadi,  barulah saya tahu bahwa pembuatan kacamata juga ditanggung BPJS.  Untuk Bogor, hanya bisa diklaim di 3 lokasi yaitu :
·         Optik apotek Kimia Farma Pusat, berlokasi di depan Kebun Raya Bogor
·         Optik RS Karya Bakti
·         Optik RS Salak

Dengan pertimbangan agar tak perlu antri panjang, kami memilih optik Kimia Farma.  Rupanya, ada limit tertentu untuk klaim kacamata ini sesuai dengan kelas kartu BPJSnya yaitu :
·         Kelas 1 : Rp. 300.000,-
·         Kelas 2 : Rp. 200.000,-
·         Kelas 3 : Rp. 150.000,-

Lumayan khan ya?

Karena Prema masih anak-anak, belum terlalu banyak pilihan frame nya.  Saat itu hanya ada warna merah, pink dan coklat.  Pink kesannya cewek banget, sedangkan coklat jadinya malah mirip kacamata saya, kayak orang gede jadinya.  Akhirnya kami memilih merah. 

Harga kacamata Prema waktu itu Rp. 350 ribu, frame + lensa.  Kebetulan BPJS kami untuk kelas 1, saya hanya perlu menambah Rp. 50 ribu saja jadinya.  Sedangkan untuk biaya konsultasi dan administrasi semuanya free, ditanggung oleh BPJS. 

Sejujurnya, dua kali menggunakan fasilitas BPJS untuk perawatan, saya merasakan sekali manfaatnya.  Mungkin ada yang melihat prosedurnya panjang atau ribet, sebenarnya tidak kok.  Ya namanya kita menggunakan fasilitas yang melibatkan lebih dari satu pihak, yaw ajar khan kalau prosedurnya agak panjang.  Ini layanan publik, kalau prosesnya  berbeda tinggal dijalani aja.  Selama kita tak melanggar aturan atau menuntut keistimewaan, saya rasa semua akan baik.

Punya pengalaman dengan BPJS? Share yuk

                                                                                                                       


2 comments:

  1. Biasanya kalau berobat daftar umum saja, nanti struk biayanya di klaim ke kantor suami, pakai bpjs juga sih...
    Pencairannya juga cepat 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Bisa juga begitu prosesnya ya. Lebih praktis

      Delete