Search This Blog

Monday, September 7, 2020

UnInstall 2020

 


“Kalau saja tahun 2020 ini adalah aplikasi, rasanya sudah saya uninstall saja.  Terlalu banyak sedih dan duka di tahun ini”

Rangkaian kalimat di atas bukanlah sekedar ucapan atau tarian jemari biasa.  Saya bersungguh-sungguh.  Entahlah, saya merasa tahun ini begitu berat.  Bahkan sejak awal tahun.  Rasanya kami terus menerus mendapat ujian.

Iya.  Saya tahu.  Tak pantas untuk mengeluh ditengah sekian banyak berkah.  Tak boleh menuntut setelah sekian banyak kebaikan.  Saya tak bermaksud kurang bersyukur.  Saya tak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, apalagi menyalahkan Tuhan.  Tidak.  Saya hanya ingin mengeluarkan sesak di dada yang begitu menghimpit.

Rasanya belum kering air mata ketika 22 Februari 2020 pukul 7 pagi,  Kabar duka itu datang.  Meruntuhkan duniaku.  Menggelapkan semua.  Rasanya hati saya hancur lebur.  Tak mampu bergerak bahkan sekedar mengangkat kaki untuk melangkah.  Bapak pergi.  Untuk selamanya.

Tanpa firasat.  Tanpa pertanda apapun.  Tanpa sakit mendera. Berpulang.  Begitu saja.  Dia, Sang Pencipta begitu menyayanginya. Hingga mengambil bapak saat raganya sehat, saat di puncak level kehidupan, sebagai pelayan umat, usai memimpin persembahyangan, usai melangitkan doa-doa terbaik untuk tim yang akan berlomba mewakili kota Kendari.

Apapun itu keadaaannya, tetap saja hati ini patah.

Pasca kepergian bapak, Ibu berkali-kali dirawat di RS.  Namanya kehilangan pasangan hidup, kami sangat mengerti kalau ibu begitu terpukul.  Pertahanannya runtuh dan membutuhkan perawatan medis.  Pertengahan Maret ibu dirawat karena maag akut dan gula darah yang tinggi.  Ya, ibu mengidap diabetes.  Baru saja tuntas sejenak, di bulan Mei ibu kembali dirawat karena anemia dan membutuhkan transfusi darah.  Sementara itu, PSBB diberlakukan di hampir seluruh wilayah Indonesia sehingga saya tak bisa pulang ke Kendari.  Saya di Bogor, ibu beserta adik dan keluarga besar di Kendari.  Duuuh hati saya lagi-lagi patah.

Ujian Belum Berakhir

Belum lagi semua sedih itu benar-benar tuntas, Agustus kemarin kami kembali diuji.  Sekali lagi ibu tumbang.  Kali ini lebih berat.  13 Agustus 2020, setelah sakit sekian hari, Ibu dinyatakan positif Covid-19.

Tuhaaaaaaan…

Lagi-lagi air mata ini tak bisa ditahan.  Bagaimana saya bisa tenang membayangkan ibu yang saat di rumah saja, jalan harus dipapah lalu mendadak wajib menjalani isolasi.  Sendirian.  Dengan infus di tangan yang makin membatasi geraknya.  Ke toilet.  Makan.  Minum.  Berganti pakaian.  Semua harus dilakukan sendiri.  Hati saya hancur.

Jangan tanya berapa banyak air mata yang tertumpah.  Bagaimana sesak di dada yang terasa berat.  Rasa was-was setiap kali mendengar dering telefon dari Kendari.  Belum lagi bertanya-tanya bagaimana nasib adik saya dan keluarga lainnya yang semua menjalani swab test karena kontak erat dengan ibu. 

5 hari pertama ibu dirawat adalah hari-hari terberat untuk kami semua.  Komunikasi hanya via video call.  Itupun kalau ibu bersedia mengangkat telefonnya.  Karena menahan sakit yang teramat sangat, kelelahan, dan segala keterbatasan membuat ibu kadang memilih mengabaikan setiap panggilan yang masuk.  Kami tahu, banyak yang peduli dan ingin memberikan perhatian pada ibu, tapi ibu justru membuat ibu makin stress di dalam sana.  Terkadang, kami terpaksa menghubungi dokter/perawat sekedar mencari tahu kabar ibu.

Saat-saat bertatap muka via layar apalagi.  Menyaksikan ibu kesakitan dan mulai meracau yang nggak-nggak, bahkan berkali-kali memanggil bapak minta dijemput adalah pukulan besar buat kami.  Harusnya kami ada di sana.  Di samping ibu.  Tapi protokol kesehatan membatasi itu semua. 

Kepada tim medis RSUD Abunawas Kota Kendari, yang tak kenal lelah merawat ibu kami di tengah keterbatasan jadwal kunjungan pasien, dengan APD lengkap yang menyesakkan itu sungguh kami berterimakasih.  Tugas yang seharusnya dilakukan anak, mantu, cucunya.  Kalian luar biasa.  Pahlawan dalam diam.  Tak habis-habis terimakasih ini kepada seluruh tim medis di ruang covid.  Semoga Tuhan memberkati dan membalas kebaikan kalian.

Terimakasih mbak/mas perawat

Selasa, 18 Agustus kabar selanjutnya datang.  Istri adik dan anak pertamanya juga dinyatakan positif Covid-19.   Memang selama Ibu dirawat, istri adik mengalami batuk-batuk di rumah.  Begitupun adik yang merasakan badan lemas dan kehilangan indera perasa.  Sementara anaknya yang pertama tak menunjukkan gejala apapun.  Namun karena trediagnosa positif, maka dokter memutuskan mereka harus rawat di RS juga dan ditempatkan satu kamar bersama ibu. 

Di satu sisi saya lega, ibu sekarang gak sendirian.  Lagipula,di hari itu kondisi ibu sudah lebih membaik.  Sudah bisa duduk lebih tenang, indera perasa perlahan kembali, selang infus sudah dilepas sehingga mobilitas bisa lebih lancar meski tetap di dalam ruangan. Di sisi lain, sedih juga karena lingkaran keluarga yang positif bertambah.  Meski terhitung sebagai OTG, tetap saja namanya diisolasi tentu tak menyenangkan.

Gambar dari SS CCTV Rumah Sakit

Sementara itu, karena kondisi adik yang menunjukkan gejala lebih berat, maka RS menindaklanjuti dengan melakukan test swab ulang.  Lalu Jumat malam, 21 Agustus hasilnya keluar.  Ya, seperti sudah diduga sebelumnya, adik positif.  Sementara anak keduanya, 5 tahun, negatif.  Padahal selama Mbah (Ibu saya), ibu dan kakaknya di RS, anak ini hanya berdua di rumah dengan Ayahnya.  Tentu saja mereka kontak erat dan interaksi langsung.

Lagi-lagi kami bingung.  Dokter memutuskan adik harus rawat inap.  Lalu, apa kabar keponakan saya si lima tahun ini?

Rumah kosong.  Menitipkan ke keluarga lain juga rasanya kami tak tega.  Menitipkan ke Oma Opa (mertua adik) juga tak mungkin.  Selain mereka juga lansia dengan resiko tinggi, di sana ada ibu hamil dan bayi usia 3 bulan.  Duuuuuh…

Kondisi ibu mulai membaik.  Bersama istri adik dan keponakan saya
Gambar dari CCTV Rumah Sakit
Nekat Bepergian di Masa Pandemi

Akhirnya si kecil diajak ke RS.  Ditempatkan sementara seruangan dengan Ibu saya, bersama ibu dan kakaknya.  Sementara ayahnya (adik saya) di ruangan terpisah.  Gimana saya bisa tenang dalam kondisi seperti ini?

Para dokter yang menangani pun akhirnya berdiskusi.  Kondisi Ibu sudah membaik.  Hasil rontgen dan swab test terakhir juga menunjukkan perkembangan yang baik.  Diputuskan kemudian bahwa ibu boleh pulang.  Bersama si kecil yang sehat tadi.

Sekali lagi kami bingung.  Meski membaik, tetap saja ibu belum pulih benar.  Di rumah berdua saja dengan bocah 5 tahun yang sedang lincah-lincahnya, tentu akan berat sekali buat ibu.  Hiks

Dengan banyak pertimbangan, akhirnya kami memutuskan, saya pulang ke Kendari.

Langsung rapid test hari itu. Tapi ya gitu, penerbangan ke Kendari itu sangat terbatas.  Saya baru bisa pulang keesokan harinya.  Untuk sementara kami minta tolong kakak yang juga tergabung di tim covid untuk menemani semalam saja.  Beruntung dia bersedia, karena keluarga lain masih takut berinteraksi langsung dengan kami.  Bisa dimengerti sih, siapa sih yang mau tertular.  Iya khan?

Satu hal yang bikin saya agak shock adalah saat naik pesawat.  Ternyata penuh bangeeeet.  Semua kursi terisi.  Tak ada jarak.  Meski mengenakan masker dan face shield tetap saja saya tak tenang dan parno luar biasa.  Saat akhirnya tiba di rumah, yang saya takutkan bukan tertular dari Ibu.  Yang saya takutkan justru saya terpapar dalam perjalanan lalu menularkannya pada Ibu dan keponakan. Huhuhu

Syukurlah itu tidak terjadi.

Hari-hari selanjutnya, bisa dibayangkan aktivitas saya.  Membersihkan seluruh rumah,  yang mana baru sehari saja ditinggalkan oleh adik saya yang positif covid.  Merawat Ibu dan keponakan.  Duuuh boyok bener dah pokoknya.  Rumah ibu gede banget dengan halaman luas. 5 Kali lipat rumah saya di Bogor.  Kamarnya banyak, yang sampai bikin saya bingung mau bersihin yang mana lebih dulu.  Ampun kakaaak #tepokjidat

Begitulah, hari-hari berjalan dengan perasaan campur aduk.  Adik, anak dan istrinya di rumah sakit.  Saya, Ibu dan anak adik yang kedua di rumah.  Suami saya dan Prema di rumah Bogor.  Usia ibu yang sudah di atas 60 tahun dengan penyakit penyerta yang berat membuat pemulihan ibu agak lambat.  Tapi sungguh, buat kami ini adalah anugerah tak terhingga ibu bisa melewati ini semua.

Masa Pemulihan

Minggu berikutnya satu persatu kabar baik datang.  Istri adik dan anaknya boleh pulang.  Adik saya menyusul beberapa hari kemudian.  Kondisi ibu juga sudah lebih stabil, meski terkadang masih terasa lemas.  Indera pengecap juga sudah kembali normal.  Ah, saya bisa sedikit lega.

Saya menuliskan ini di atas pesawat.  Dalam penerbangan Kendari – Jakarta.  Sembari menatap gumpalan awan di bawah sana.  Yang kadang terlihat seputih kapas, kadang nampak kelabu menyimpan air yang siap tumpah ke bumi.  Persis hidup saya beberapa bulan terakhir, suka dan duka rasanya silih berganti.  Bahagia dan sedih bisa hadir dalam satu waktu.  Saya tahu, semua mengikuti hukum-Nya.  Saya sadar, tak ada yang terjadi tanpa kehendak-Nya.  Tapi sungguh, kalau saya boleh meminta, tolong cukupkan sedih dan duka ini sampai di sini saja, Tuhan.  Tolong isi hari-hari kami selanjutnya dengan kisah bahagia. 

Terimakasih tak terhingga atas segala doa, dukungan dan bantuan moril materiil dari semua pihak yang diberikan pada keluarga kami.  Tim medis rumah sakit, keluarga besar, komunitas dalam lingkaran pertemanan saya, suami, adik dan semuanya.  Teman-teman di WAG tempat dimana saya berkeluh kesah, meminta pertimbangan, menerima pelukan virtual dan doa-doa tulus yang dilangitkan mengetuk kemurahan hati Tuhan agar memberi jalan kesembuhan untuk Ibu dan adik sekeluarga.

Saya tidak tahu doa siapa yang dikabulkan Tuhan.  Tapi saya percaya, semakin banyak doa-doa baik yang dipanjatkan, semakin besar peluang untuk dikabulkan.  Semoga menjadi tabungan karma baik untuk semua.

Terimakasih

Terimakasih

Terimakasih

Sungguh, semua ini sangat berarti bagi kami.

Jika selama interaksi kami dengan semua pihak dalam proses pengobatan dan perawatn ini, ada yang kurang berkenan baik pikir, ucap maupun laku, kami mohon dimaafkan.  Tentunya itu karena keterbatasan hati sebagai manusia saat menerima ujian ini.

Saat ini, semua masih dalam masa pemulihan.  Saya percaya, Tuhan maha baik.  Selalu maha baik.  Dan saya percaya, mujizat Tuhan itu nyata.  Selalu ada jalan dari setiap masalah.  Selalu ada jawaban dari setiap ujian.   Hari-hari ke depan masih terbentang luas.  Entah apa yang akan terjadi di masa depan.  Tapi jujur saja, tahun ini terasa begitu berat buat kami.  Aaaaa… boleh gak sih 2020 ini diuninstall saja?

Teman-teman, Covid itu nyata

Mari tetap beraktivitas dengan mematuhi protokol kesehatan

Pakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, jaga jarak, hindari kerumunan, makan makanan bergizi dan istirahat yang cukup.  Melindungi diri sama dengan melindungi orang lain.


Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Semoga semua makhluk berbahagia

Rahayu

 

Salam

Arni

 

20 comments:

  1. Saya banyak mendengar cerita ini, Pasti akan ada kabar baik untuk kesembuhan ibu dan keluarga kak Putu, dan mereka yang juga sedang berjuang melawan Covid. Semangaaat!!

    ReplyDelete
  2. Semoga ibu istri dan keluarga kak Putu segera pulih dan membaik ya kak

    ReplyDelete
  3. Turut berduka dengan kesedihan yang mbak Arni alami. Tahu banget rasanya ditimpa ujian berturut-turut. Semoga selalu diberi kesabaran dan ketabahan. Bagi keluarga yang sakit, ibu, adik, ponakan, dan semuanya, semoga segera sehat kembali. Bisa berkumpul lagi bersama keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia.

    Tetap semangat ya mbak :)



    ReplyDelete
  4. Dari akhir tahun lalu sampai hari ini di keluargaku juga banyak kabar duka mba. Satu persatu keluarga dipanggil Yang Kuasa mendadak. Seakan akan umur begitu cepat berlalu.
    Semoga setelah badai, ada pelangi indah menyelimuti keluargamu ya mba. Sehat-sehat ibu. Tugas sekarang tinggal membahagiakan ibu di sisa waktunya.

    ReplyDelete
  5. Kaak, kamu hebat! Ibu kamu hebat! Keluarga adikmu hebat!

    Semoga semua segera pulih dan sehat-sehat. Kakak dan keluarga di Bogor juga sehat-sehat.

    Semoga dengan bercerita ini, kakak lebih nyaman dan berkurang bebannya. Makasih sudah berbagi kak. Berharap yang terbaik untukmu dan keluarga 🙏

    ReplyDelete
  6. Jangan di delete mbak, nanti yg lain ikutan hehe
    Semoga sehat selalu ya
    Sungguh ujian berat dan semoga bisa diambil hikmahnya

    ReplyDelete
  7. Turut berduka atas kehilangan bapak. Semoga ibu dan semua keluarga diberi kesehatan selalu. Semoga pandemi segera berlalu, semoga bisa kumpul keluarga. Pasti ada hikmah di balik semua, sabar ya kak.

    ReplyDelete
  8. Turut prihatin ya kak...sedih deh bacanya.....semoga kita semua diberikan kekuatan dan kesehatan plus terhindar dari bang copid yang rese.......salam buat keluarganya

    ReplyDelete
  9. Tahun 2020 juga menjadi tahun berat bagi saya, tapi saya masih belum sanggup untuk menuliskan dalam blog kayak gini, karena masih sering nangis sendiri. Kehilangan orang tua sungguh berat bagi saya

    ReplyDelete
  10. Benar mba.. kita gak pernah tau dari siapa dia itu terkabul oleh Tuhan dan saya juga percaya semakin banyak doa dipanjatkan maka semakin cepat terkabul. Semoga keadaan lebih baik lagi mba.. semoga kita semua sehat selalu.. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Sehat terus buat mba Arni juga. Alhamdulillah sudah kembali ke Bogor ya. Semoga ibu dan keluarga di Kendari juga kembali pulih lebih cepat.

    ReplyDelete
  12. Turut berduka mbak, tetap tegar semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin...

    ReplyDelete
  13. Tetap sabar ya kak...bangganya kamu kak bisa dekat keluarga dalam sikon gini. Semoga semua cepat pulih

    ReplyDelete
  14. Semoga tak ada lagi duka di hari-hari mendatang ya mbak.
    Nggak usah di unisntall mbak, di arsip saja, karena nyatanya bisa jadi bahan cerita dan semoga bisa diambil pelajaran bagi yang membacanya

    ReplyDelete
  15. Turut berduka yaaa kak, tetep sabar dan ikhlas. Setiap ujian diujung sana pasti ada hikmahnya. Stay positif kak, karena keluarga kakak sedang membutuhkan kakak. Semangaatt !!!

    ReplyDelete
  16. Bener ya mbak. 2020 memang seperti masa-masa suram utk kebanyakan orang.
    semoga mbak dan kita semua terus tegas menghadapi 2020 dan tahun-tahun berikutnya

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah semua berakhir baik, tetap jaga kesehatan ya, ini jadi pelajaran buat saya untuk selalu berhati-hati di mana pun. terima kasih sudah berbagi

    ReplyDelete
  18. Kakkk semoga semuanya sehat-sehat dan selalu dilindungi oleh Tuhan, ya. Tahun 2020 ini memang memberikan banyak pelajaran untuk kita semua tapi aku yakin kita bersama-sama bisa bangkit bareng. Semoga di ke depannya semua jauh lebih baik sesuai yang kita harapkan.:)

    ReplyDelete
  19. Tahun 2020 ini memang rasanya pengen di skip aja ya kak. Seneng banget bisa berakhir baik ceritanya. Tetap semangat ya mba.

    ReplyDelete
  20. Turut berduka dengan kesedihan mba arni. Suami saya juga positif Covid, kami ngga ketemu sebulan karena isolasi. alhamdulillah sekarang sudah kumpul lagi :)

    ReplyDelete