Monday, July 15, 2019

,

Membangun Kerjasama Jangka Panjang



Meski tak lagi bekerja kantoran, beberapa  aktivitas yang saya lakukan pasca resign tetap saja membutuhkan perhatian dan keseriusan.    Bukan sekedar pengisi waktu yang dilakukan asal-asalan atau suka-suka sesuai mood. 

Saya gak tahu kenapa, beberapa kali bekerja di tempat yang berbeda, selalu saja ditempatkan sebagai pengajar/trainer.  Sewaktu masih sekolah dan kuliah, kalau ada giliran presentasi kelompok, saya selalu ditunjuk sebagai juru bicara.  Saya juga sempat menjadi asisten dosen.  Lulus kuliah, saya coba-coba melamar pekerjaan di salah satu perusahaan valas, dan diterima sebagai marketing.  Belum juga sempat turun lapangan, saat teman-teman lain dilepas mencari nasabah pasca training saya justru “ditahan” sebagai trainer.
Dari perusahaan ini, saya kemudian pindah ke salah satu Bank swasta nasional yang akan membuka cabang di Kendari, kota asal saya.  Lagi-lagi sebagai marketing.  Belum sempat mengaplikasikan ilmu yang didapat dari ruang training, saya ditunjuk belajar ke kantor pusat untuk aplikasi sistem baru.  Setelahnya, lagi-lagi tugas saya berkeliling ke cabang-cabang untuk mengajar.  Pun setelah sistem baru berjalan, saya malah ditempatkan di bagian penyusunan SOP lalu kembali berkeliling cabang untuk melakukan sosialisasi, sampai masa akhir dimana saya  kemudian memutuskan untuk resign.

Di kelas, bersama anak-anak hebat penerus bangsa
Apakah urusan cuap-cuap sudah selesai?

Ternyata belum.

Saya malah dilamar untuk mengajar di sebuah yayasan pendidikan.  Kali ini ngajar anak SD.  Saya juga  bergabung dengan komunitas dongeng yang membuat saya jadi lebih banyak lagi tampil di depan audience.  Tapi kali ini anak-anak.  Selain itu, di beberapa kesempatan saya juga memandu acara sebagai MC atau moderator.

Apa karena saya cerewet ya, ini kok tawarannya selalu urusan cuap-cuap. Haha

Dalam urusan tulis menulis, saya memang belum sehebat kawan-kawan yang sudah menerbitkan buku tunggal.  Buku yang pernah tahun ada nama saya baru sebuah antologi bersama kawan-kawan baik hati yang rela berbagi tulisan untuk hadiah ulang Bapak saya 2 tahun lalu. Saya juga belum sebeken blogger beken yang digandeng brand-brand ternama.  Hanya remahan peyek teri dalam kaleng regal.
 
Makanya hati saya membuncah bahagia saat ada yang bertanya via email atau japri via medsos tentang beberapa artikel yang saya tulis di blog.  Norak-norak bergembira deh.  Beberapa waktu terakhir saya menulis beberapa artikel terkait sejarah.  Museum, monumen peringatan peristiwa penting, bangunan-bangunan lainnya yang punya sejarah menarik di masa lalu. 

Menjadi moderator dalam sebuah diskusi 
Awalnya saya mengikuti trip yang diadakan oleh salah satu komunitas, lalu menuliskan kisahnya.  Ou, saya juga bayar seperti yang lain.  Namanya juga peserta.  Pasca trip, seperti biasa update blog.  Menuliskan sepenuh hati, seperti trip-trip lainnya.  Lalu membagikannya di grup sesama peserta.  Tak dinyana, ini justru membuka jalan kerjasama yang baru.  Sehingga setiap kali mereka ngadain event, saya diajak serta (bersama keluarga tentunya) dan free.  Bahkan mereka merekomendasikan saya ke komunitas-komunitas serupa.  Wah, tentu saja saya menyambut gembira kerjasama ini.  Pas bener, karena kami sekeluarga pecinta wisata sejarah.   Saya percaya, setiap tulisan akan menemukan pembacanya, setiap kemampuan akan menerima apresiasi sesuai porsinya. 

Tetap menjalin hubungan baik dengan komunitas/brand/lembaga yang pernah diajak kerjasama adalah salah satu cara membuka peluang untuk kerjasama berikutnya.  Saya ingat suatu hari saya mengikuti kegiatan berupa workshop.  Merangkum materinya dengan bahasa sederhana versi saya, lalu memuatnya dalam bentuk artikel liputan di blog.  Tak disangka, penyelenggara malah memberikan saya fee yang jumlahnya lumayan. 

Memandu kegiatan Upanayana dan Samwartana Samskara 
Lain waktu, Prema pernah terkena HMFD (Flu Singapur).  Setelah sembuh, saya menuliskannya di blog.  Mulai dari cirri dan cara mengobatinya.  Di waktu yang lain, seseorang mengirimkan email untuk mengucap terimakasih Karena artikel saya dijadikan rujukan saat anaknya terjena penyakit yang sama. Hal kecil yang membuat bahagia.  

Pun demikian dengan artikel tentang imunisasi yang pernah saya tuliskan.  Awalnya saya hanya membagikan tulisan itu ke WAG kelas Prema.  Rupanya  beberapa orang tua siswa lain meneruskannya ke grup-grup yang lain.  Saya terkikik geli ketika di lingkaran pertemanan saya yang lain, artikel itu dishare oleh saalah satu member.  Iya, mereka gak tahu kalau saya yang menuliskannya.

Jangan pernah menjelek-jelekkan brand/komunitas/tempat kita bekerja. Apalagi sampai koar-koar di media sosial.  Ibaratnya, media sosial adalah portofolio kita.  Ibarat buku yang terbuka, semua orang bisa membaca dan menarik kesimpulan tentang diri kita.  Bukan mau pencitraan sih, tapi bukankah memang lebih baik berbagi hal-hal positif saja?   beberapa perusahaan bahkan menilai calon karyawannya dari status-status media sosialnya.  Jika ada kritik, sampaikanlah dengan elegan.  Bila perlu, japri saja ke pihak brand.  Karena tak semua brand siap kekurangannya dipublikasikan. 

Saat ini, saya menikmati setiap peran yang dipercayakan. Mungkin terlihat receh dan remeh.  Tapi saya merasa hidup lebih berarti ketika setidaknya bisa member manfaat pada orang lain, meskipun hanya berupa noktah kecil di tengah samudera ilmu maha luas ini.  Bahagia itu sederhana.  Cukup lakukan yang terbaik dan tulus.  Apresiasi adalah bonus.  Tugas kita hanya bekerja dari hati. 

Jadi, kalau ditanya apa tips “menjual diri” yang saya lakukan?
Saya hanya bisa bilang : Bekerja Sepenuh hati, berikan yang terbaik

Salam
Arni

0 comments:

Post a Comment