Search This Blog

Thursday, July 11, 2019

Mencicipi Kuliner Lokal di Pasar Kemuning Karanganyar



Tak terasa kita sudah tiba di hari kamis.  Sebentar lagi akhir pekan dong ya.  Ada yang sudah punya rencana jalan-jalan di akhir pekan? Enaknya  kemana yaaa….

Ada banyak pilihan aktivitas di akhir pekan.  Wisata, nonton, ke toko buku bisa jadi pilihan.  Untuk genre film, sudah kita bahas 2 hari yang lalu.  Sesuai selera masing-masing lah ya.  Toko buku juga udah dong kemarin.  Nah kali ini ada satu tempat lagi yang asik buat dikunjungi lho, yaitu pasar tradisional.

Iya. Kalian gak salah baca kok.  Beneran pasar tradisional.

Apa enaknya main ke pasar?  Waaah… belum tau dia!

Berburu ikan asin di Pasar Mandonga, Kendari
Saya, terus terang agak jarang ke pasar.  Bukan karena sombong atau gimana, tapi memang jarang ada  kebutuhan belanja yang mengharuskan ke pasar.  Rumah saya agak jauh dari pasar.  Untuk belanja kebutuhan sehari-hari seperti ikan, tahu, tempe, ayam dan aneka sayuran ada warung dekat rumah yang menjual semuanya lengkap.  Buka setiap hari, dengan harga yang sangat terjangkau.  Bahkan enaknya sayuran itu sudah dipaket-paketin, sayur asem, capcay, lodeh, pecel dll.  Jadi kita tinggal ambil berapa bungkus sesuai kebutuhan.  Harganya murah, cukup merogoh kocek 4000 rupiah saja satu paket sayuran sudah bisa kita bawa pulang.  Kalau untuk keluarga kecil saya yang anggotanya hanya bertiga, porsi sayuran ini bisa buat seharian.  Tinggal beli bahan lauknya saja deh. Asyik khan?

Meski begitu, sesekali saya tetap ke pasar tradisional kok.  Biasanya untuk berbelanja kebutuhan khusus atau dalam jumlah banyak.  Saya menyukai suasana pasar tradisional.  Hiruk pikuk pedagang dan pembeli, riuhnya tawar menawar, wajah-wajah bahagia saat dagangan laris juga tak ketinggalan wajah penuh harap dari para tukang pikul, anak-anak yang mencari rejeki dan seterusnya.  Bertemu dengan beragam eskspresi deh pokoknya klo ke pasar.

Saat berwisata ke suatu daerah, saya selalu menyempatkan untuk menikmati kuliner local di pasar tradisionalnya.  Ke Jogja saya mempir ke Pasar Beringharjo, ke Palembang main ke Pasar 16 ilir, saat ke Solo saya mampir ke Pasar Klewer, ke Bali biasanya saya sempatkan ke Pasar Badung, Pasar Kumbasari, Pasar di Tabanan dan beberapa pasar lainnya.  Kalau pulang ke Kendari apalagi, pasti saya ke Pasar Mandonga deh, beli ikan asin dan terasi buat dibawa pulang ke Bogor.

Terasi khas Kendari.  Saat ke Pasar, jangan terkecoh ya, ini bukan coklat
Nah, kali ini saya mau cerita pasar tradisional yang baru saja saya kunjungi saat liburan bulan lalu.  Kebetulan kami sekeluarga berlibur ke Karanganyar, tepatnya di Dukuh Jlono, Desa Kemuning, Kec. Ngargoyoso, Jawa Tengah.    Liburan yang sangat berkesan buat saya.  Nanti akan saya ceritakan di postingan berikutnya deh tentang desa cantik ini.  Kali ini saya mau cerita tentang pasarnya dulu.


Pasar Kemuning, begitu nama pasar ini.  Dari rumah tempat kami menginap cukup berjalan kaki saja melintasi jalan nan sejuk dengan kebun teh di kanan kirinya.  Sekalian menghangatkan badan yang gigil karena dinginnya udara di sini.  Iya, di sini dingin banget, karena terletak di lereng Gunung Lawu.

Pasar Kemuning tidak buka setiap hari.  Hari pasarannya setiap Legi dan Pon.  Hayooo… ada yang bingung gak sama hari Legi dan Pon ini?

Salah satu sudut Pasar Kemuning
Jadi, penamaan hari ini berdasarkan konsep pawukon.  Di Bali dan Jawa, penamaan hari, penentuan hari baik untuk berbagai aktivitas, acara, ritual dan sejenisnya masih menggunakan perhitungan hari tradisional seperti ini.  Dalam kalender Bali dan Jawa,  ada konsep wewaran yang digunakan untuk menghitung hari.  Ada 10 wewaran yang dengan hitungan kombinasi tertentu akan menentukan hari-hari tertentu juga.  Nah, Pon dan Legi ini masuk hitungan Panca Wara (Umanis/Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon

Karena hitungannya hanya 5, sementara jumlah hari dalam satu minggu ada 7, maka hari pasaran ini bisa jatuh di hari yang berbeda-beda setiap minggunya.  Bahkan ada minggu yang hari pasarannya 2 kali seminggu ada pula yang 3 kali seminggu tergantung ketemunya dengan Legi dan Pon.   Kami beruntung, saat berlibur ke sana sempat bertemu dengan 2 kali hari pasar.

Baca juga : Pesan Toleransi dari Jlono Kemuning 

Sejak malam sudah diniatkan untuk bangun pagi, melawan rasa malas untuk bergelung di balik kehangatan selimut.  Iya, saking dinginnya udara di sana, rasanya untuk membuka selimut di pagi hari itu beraaaat banget.  Namanya juga liburan, sesekali malas tak apa. Haha.  Tapi pagi itu beneran diniatin deh jalan ke pasar. 

Namanya pasar, pastinya ramai dong.  Pedagang sayuran segar terlihat menata dagangannya di are depan. Warung-warung juga mulai buka.  Geliat kehidupan khas pasar tradisional langsung terasa.  Yang berat buat saya adalah komunikasi.  Semua orang pakai bahasa Jawa kakaaaak.  Haduh, saya sih ngerti kalau dengerin orang ngomong, tapi lidahnya belibet klo harus ikutan ngomong.  Mendadak lemot deh pokoknya.

Ibu tua pedagang aneka penganan khas Kemuning
Untung kami ditemani teman saya, yang rumahnya kami inapi selama di sana.  Jadi ya dialah yang jadi penyambung lidah kami. Tak ketinggalan saat  pasar begini, cobalah kuliner setempat. Rasakan sensasi makanan baru dengan citarasanya yang unik.  Waktu itu selain belanja kebutuhan dapur, kami juga membeli sarapan.  Ada pecel dengan sambal tumpang (sambal yang terbuat dari tempe bosok), bubur candil dan kelengkapannya, jadah tempe dan beberapa penganan lainnya.  Yang bikin saya terpana, harganya muraaaah banget.  Setiap porsi makanan tadi hanya 3000 rupiah saja.  Porsinya pas dan mengenyangkan lho. Harga gorengannya 500 perak.  Oh em ji, langsung berasa tajir saya belanja di sini hahahahaha
 
Ayo dipilih dipilih
Karena buka hanya di hari tertentu, pasar ini cukup ramai saat hari pasaran.   Sepertinya warga sekitar tumplek blek berbelanja deh.  Apalagi kalau pas hari Pon, baru akan ketemu pasar lagi 3 hari kemudian.  Jadi ya beberapa orang berbelanja agak banyak untuk stock bahan makanan.

Menurut info, karena meningkatnya kunjungan wisata ke Kemuning akhir-akhir ini, Pasar kemuning akan direnovasi dan ditata lagi agar lebih rapi dan nyaman untuk pengunjung.  Kemuning memang punya banyak potensi wisata.  Lokasinya juga strategis, dekat dengan terminal Ngargoyoso.  Potensi wisata di Desa Kemuning juga sangat banyak.  Mulai dari Kebun Teh yang terhampar hijau sejauh mata memandang, river tubing Kali Pucung, fasilitas outbond dan wisata-wisata alam lainnya.

Saat menuliskan ini, ada rasa hangat di dada.  Seolah ada yang memanggil-manggil untuk kembali.  Menikmati keramahan penduduknya, menyesap kesegaran udaranya, bercumbu dengan dinginnya air  pegunungan dan pastinya menikmati kulinernya yang menggoda dan membelai lidah.

Kemuning, tunggu kami kembali ke sana ya.   

Salam
Arni

1 comment:

  1. wah jadi kalo ada tempat makan, langsung beli banyak buat nyetok ya.. hebattt

    ReplyDelete