Search This Blog

Sunday, July 21, 2019

Mau Grup WA Langgeng, Ini Dia Tipsnya



Kemajuan teknologi dalam dunia komunikasi saat ini semakin berkembang.  Dulu, selain melalui suara kita juga bisa terhubung dengan orang lain melalui pesan pendek.  SMS (Short Message Service) yang sesuai namanya maka benar-benar pendek untuk sekali pengiriman pesan, jumlah karakter sangat terbatas sehingga membuat orang membuat aneka singkatan untuk kata-kata yang panjang.

Setelah SMS lalu hadir BBM, yang pada awal kemunculannya hanya bisa digunakan oleh pemilik HmuncP dengan merk tertentu.  Dari BBM inilah awalnya grup-grup chat bermunculan sehingga penggunanya dapat terhubung dalam obrolan bersama dalam sebuah kelompok.

Berkembangnya teknologi kemudian menghadirkan aplikasi baru “Whatsaap” yang sepertinya hingga saat ini memiliki jumlah pengguna terbesar.  Meski kemudian bermunculan aplikasi chat lainnya seperti Line, Telegram dan lain-lain, tampaknya whatsapp masih menempati urutan pengguna terbanyak.

Setiap orang tentunya bergabung ke sebuah grup untuk alasan dan tujuan tertentu.  Bisa karena kesamaan minat dan hobby, latar belakang pekerjaan, sekolah, keluarga, bahkan kelompok alumni kegiatan, pendidikan dan sebagainya.  Yang pasti, whatsaap mempertemukan orang-orang dari berbagai belahan dunia, terpisah jarak dan waktu menjadi begitu dekat dalam dunia digital. 
Bagaimana menjaga hubungan dalam grup agar tetap asyik, nyaman  dan menyenangkan buat seluruh anggotanya? Perhatikan hal-hal berikut yuk, sebab meski tak bertatap muka secara langsung, berkomunikasi via whatsapp juga ada etikanya.

Pahami bahwa setiap anggota  punya perbedaan
Namanya ngumpul banyak orang, meski mungkin tergabung dalam WAG  karena satu atau dua alasan yang sama, pastinya tetap memiliki perbedaan.  Hobby, sifat, suku, agama, usia, pendidikan dll yang tentunya menjadi penentu setiap pendapat dan persepsi dalam memandang atau menanggapi suatu masalah.

Perbedaan-perbedaan itu kemudian mengantarkan pada cara pandang setiap orang.  Ada yang santai, serius, suka humor, dan sebagainya.  Jadikan setiap perbedaan untuk mengkayakan ruang pikir.  Baca pelan-pelan setiap diskusi dan jangan mudah terbawa emosi.  Tak perlu memaksakan diri seolah pendapat kita yang paling benar.  Tak perlu baper, tersinggung atau kecewa kalau pendapat kita tak sama dengan anggota lainnya. 



Pastikan seseorang setuju saat diundang masuk ke WAG

Bila kita menjadi admin sebuah WAG bukan berarti bisa sesukanya memasukkan anggota baru tanpa persetujuaannya.  Sebaiknya lakukan komunikasi secara pribadi terlebih dahulu untuk menanyakan kesediaanya bergabung.  Begitu pula dengan anggota grup lainnya, sebaiknya bicarakan terlebih dahulu rencana menambah anggota baru di grup tersebut.  

Hal ini tentunya untuk menjaga kerukunan dan dalam keakraban dalam grup.  Khan gak lucu kalau ternyata ada anggota grup yang ternyata sebelumnya mungkin ada selisih paham dengan anggota baru ini atau memang ada ketidakcocokan bisa-bisa jadinya berantem melulu sehingga suasana grup menjadi tak nyaman.

Gunakan bahasa yang baik dalam berkomunikasi

“Sex lagi saya ingatx, bsk kita berkumpul jam 9 pagi di sekolah,”

Teman-teman bisa mengerti saat membaca kalimat di atas?  Jujur, tulisan seperti itu bikin dahi saya mengkerut dan berpikir keras.  Huruf “X” yang digunakan dalam kalimat itu mempunyai dua makna yaitu pengganti kata “kali” dan kata “kan”

“Sekali lagi saya ingatkan, besok kita berkumpul jam 9 pagi di sekolah,”

Sesimpel itu sebenarnya.  Tak sampai dua satu menit untuk menulis lengkap.  Lalu kenapa harus menggunakan kata ganti yang tak semua orang bisa mengerti.  Seperti yang saya sampaikan di atas, anggota WAG tentunya berasal dari latar belakang yang berbeda, termasuk perbedaan usia.  

Tak semua orang mengerti akan simbol-simbol dalam komunikasi.  Kita tentunya mau setiap pesan yang kita sampaikan dapat dipahami dengan mudah, karena itu gunakan bahasa yang baik dan umum dalam berkomunikasi.  Tak harus baku, tapi minimal dapat dimengerti oleh semua orang.

Tetap jaga privacy orang lain

Meskipun kita cukup akrab dalam satu grup, namun tetaplah saling menjaga privacy sesama anggota.  Memposting foto-foto konyol salah satu anggota grup yang berujung menjadi bahan ledekan dan tertawaan anggota lainnya sesaat mungkin akan terasa lucu.  Hati-hati, karena nila setitik rusak susu sebelanga, jangan sampai karena hal sepele membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Jangan menyebar pesan berantai yang mengangkat issue sensitive, apalagi hoax

Saring sebelum sharing. Bagaimanapun WAG adalah tempat ngobrol antara sesama anggota.  Bukan untuk saling menggurui atau menjadi sok tahu, sok penting, dan sejenisnya.   Tidak semua orang senang mendapat pesan-pesan berantai.  Tak selamanya ‘sharing is caring’ karena bisa jadi ada orang-orang yang mempunyai sudut pandang berbeda dan pilihan yang tak sama.  Alih-alih memberikan informasi, malah berujung debat tak berkesudahan karena masing-masing merasa benar dan tak mau mengalah.  Kalau sudah begini, anggota lainpun bisa hengkang dari WAG.

Meski begitu, saat ada berita hoax yang masuk ke grup, sementara kita tahu yang sebenarnya, tak ada salahnya meluruskan berita tersebut untuk memutus pesan berantai menyebar lebih luas.

Ngobrollah bersama semua anggota

Namanya grup, pasti anggotanya banyak.  Jangan ngobrol sama satu dua orang saja seolah dunia milik berdua.  Jangan membicarakan hal-hal yang hanya dimengerti oleh orang tertentu saja, apalagi dengan kode-kode rahasia.  Hati-hati, ini bisa membuat yang lain tersinggung.

Tujuan berkumpul dalam grup khan ngobrol bareng.  Pilih topic obrolan yang umum saja.  Tak perlu merasa eksklusif ataua merasa paling penting.  Semua setara.  Kalau mau ngobrol berdua, ya japri sajalah, tak perlu menggunakan jalur grup.

Maklumi tingkat keaktifan anggota

Tak perlu memaksakan semua anggota untuk aktif nimbrung dalam setiap obrolan.  Pastinya dalam setiap grup, ada saja anggota yang sangat irit berkomentar bahkan memilih untuk menjadi “silent reader” saja. Ada banyak alasan mereka melakukan itu.  Bisa jadi karena memang sibuk sehingga buka grup hanya sesekali, bisa jadi karena gak nyambung sama obrolannya, perbedaan waktu dan banyak alasan lainnya.  Gunakan kata-kata yang sopan untuk memanggil mereka agar aktif dalam grup. 

Jangan memancing di air keruh

Apabila dalam sebuah grup terjadi perdebatan antar anggota, jangan sesekali memanfaatkan kondisi tersebut dengan menambah keruh suasana yang sudah panas.  Sebisa mungkin buat suasana kembali menjadi damai.  Tak perlu mengambil celah dari masalah orang lain.  Dan jangan melibatkan diri dalam masalah orang lain.

*****
Itu dia delapan tips untuk menjaga kenyamanan  dan kerukunan dalam WAG.  Selalu berpikir positif agar kita semua anggota merasa nyaman tentram tergabung dalam WAG. 

Kalian punya tips lainnya? Share yuk…

Salam
Arni





18 comments:

  1. aku termasuk yg paling sering jadi silent reader hehehe. aslinya emang ga jago ngobrol hihihi. etapi kalo di grup yg bikin nyaman krna sudah dekat, aku rutin menyapa n ikutan ngobrol :)

    ReplyDelete
  2. Kurangnya sabar masuk group wa itu bikin naik darah lho ya. Hahaha...
    Biasanya saya ga sembarang mau diajak masuk group. Setelah urusan selesai langsung minta keluar.
    Kalaupun berada di wag seperti alumni, komunitas dll, saya pilih silent semua.

    ReplyDelete
  3. Wah aku baru aja left WAG keluarga. Bener banget mba, kalo di WAG sebaiknya jgn mendominasi hehe

    ReplyDelete
  4. Ahh iya betul banget, Ada etikanya dalam ber-WAG ya mba. Jangan sense hoax, setuju banget. Juga pahami waktu online setiap org Yang berbeda

    ReplyDelete
  5. Tips yang bermanfaat untuk menjaga wag tetap langgeng. Aku nggak suka kalau ada yang terlalu share macam-macam yang mungkin nggak terlalu perlu bagi semua orang di grup, seperti fotoatau video yang bisa memenuhi memori.

    ReplyDelete
  6. Memang benar sekali, Mbak. Dalam satu grup dengan beragam karakter, membuat kita yang harus menyesuaikan. Dan saya biasanya lebih banyak menyimak.
    Hanya syukurlah grup WA yang saya ikuti, adminnya sudah menetapkan aturan. yang melanggar, out hehehe.

    ReplyDelete
  7. Aku suka dengan poin bahwa setiap anggota itu masih memiliki perbedaan Yeah terkadang dari aneka perbedaan itu yang harusnya menyatukan kita yah. Tapi justru di grup wa itu sering jadi pemicu pertengkaran dan ujung-ujungnya keluar dari grup gitu.

    ReplyDelete
  8. Saling tenggang rasa diantara sesama penghuni WAG, agar tetep kalem dan damai, jangan juga keseringan oot

    ReplyDelete
  9. wah iya nih, kadang versi di WAG sama dunia nyata bisa beda persepsi, kdg jadi lbh milih byk diam klo di WAG hehe...

    ReplyDelete
  10. Wah, ada panduan ber wa nih yg menjadi atensi sendiri ya.. Bagi kita semua

    ReplyDelete
  11. Memang, Mbak Aini. Namanya berada dalam satu lingkaran dengan beragam karakter, pasti ada persamaan, ada pu perbedaan. Dan kalau saya memang pintar-pintar menyikapi dan menyesuaikan. Misalnya si A suka becanda, saya becanda, tapi si B serius, maka saya tahan becanda. Kalau memang saya tidak punya kapasitas komen, saya menyimak saja hehehe

    ReplyDelete
  12. Tetapi, memang suka ada aja anggota yang bikin aturan di dalam aturan. Kalau udah begini, saya selalu berharapnya admin punya ketegasan

    ReplyDelete
  13. Aku termasuk silent reader di grup wa euyyy

    ReplyDelete
  14. Setuju dengan tips ini. Kadang hidup bersosialisasi baik di dunia nyata atau dunia maya itu tidak mudah, jd harus paham situasi dan kondisi ya

    ReplyDelete
  15. Tahun kemarin saya keluar dari beberapa WAG. Karena tiap buka beberapa WAG langsung diserbu ratusan unread message. Mau nimpalin udah males nyekrolnya ke atas. Jadi, tahun ini saya ikutan WAG yg aturannya ketat, misalnya hanya admin yg bisa posting.

    Klopun masih ada grup-grup yg padat lalu lintasnya, palingan hanya satu dua grup.

    ReplyDelete
  16. Thanks for sharing, semoga sukses terus..

    ReplyDelete
  17. Sekarang ga sedikit ditemui drama "dari WhatsApp" Baper lha, adu pendapat dll kisah klumit lainnya
    Balik lagi setiap pribadi harus bisa mengendalikan ego

    ReplyDelete